18.1 C
New York
07/05/2026
Aktual

ANRI Luncurkan Buku Terkait Sejarah Pertambangan Timah Pulau Bangka

img_20161213_184848_hdr

JAKARTA (Pos Sore) — Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) meluncurkan ‘Naskah Sumber Arsip Pertambangan Timah di Pulau Bangka Pada Masa Kolonial’ yang dibukukan. Buku ini diluncurkan agar para peneliti dan masyarakat bisa melakukan penelitian yang menjadi khasanah ANRI.

“Arsip pertambangan ini merupakan salah satu khazanah arsip yang tersimpan di ANRI,” kata Kepala ANRI Mustari Irawan, di gedung ANRI, Jakarta, Selasa (13/12) usai membuka talkshow ‘Naskah Sumber Arsip Pertambangan Timah di Pulau Bangka Pada Masa Kolonial’.

Talkshow ini menghadirkan narasumber Sutedjo Sujitno sebagai penulis Buku Sejarah Timah Indonesia. Mustari berharap peluncuran dan talkshow tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai arsip yang tersimpan di ANRI

Dijelaskan, Naskah Sumber Arsip Pertambangan ini merupakan naskah sumber pertama yang dibuat oleh ANRI. Dalam naskah ini menampilkan khazanah arsip statis bernilai guna kebuktian dan sejarah bagi proses pertambangan yang terjadi di Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Ia memaparkan, melalui arsip pertambangan timah yang telah disusun ini, akan diperoleh gambaran yang jelas mengenai proses pencarian lokasi tambang, pembangunan infrastruktur, penggalian, pengolahan, serta pemanfataan dan pemasarannya.

img_20161213_174258

“Diluncurkan dengan maksud agar para pengguna arsip dapat mengetahui dengan baik mengenai arsip yang tersimpan di ANRI, khususnya yang berkaitan langsung dengan masalah pertambangan,” tambahnya.

Mustari menambahkan, dalam penulisan naskah sumber arsip ini pulau yang menjadi konsentrasi pertambangan adalah Pulau Bangka. Pemilihan pulau tersebut karena Pulau Bangka merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia sejak masa kolonial.

Memang ada beberapa pulau lain penghasil timah antara lain Karimun, Riau, Kundur, Belitung, Bangkinang, dan pulau lainnya. Namun, dalam perkembangannya timah-timah yang telah dihasilkan oleh pulau-pulau tersebut jumlah timah yang dihasilkan tidak sebesar Pulau Bangka.

Setelah VOC masuk ke Pulau Bangka terjadilah kontrak dagang dengan sistem monopoli. Kontrak ini menetapkan penguasa Bangka dan Balitung mengakui VOC sebagai pelindung dan berjanji tidak akan menjalin kerjasama dan berhubungan dengan bangsa lainnya.

“Sejak itu, eksploitasi pertambangan timah telah dilakukan secara besar-besaran oleh VOC. Namun sejak VOC runtuh, maka ekploitasi pertambangan timah tersebut dilanjutkan oleh Pemerintah Hindia Belanda,” paparnya.

img_20161213_094423

Menurutnya, peluncuran buku ini bisa memberikan kontribusi bagi peneliti yang ingin meneliti timah di Indonesia. Karena sebelumnya, dalam khazanah arsip timah di ANRI lebih banyak menggambarkan arsip-arsip foto dan surat-surat. Dalam buku ini memadukan antara arsip yang berbentuk foto dan teks menjadi satu kesatuan.

Mustari menilai peluncuran ‘Naskah Sumber Arsip Pertambangan Timah di Pulau Bangka Pada Masa Kolonial’ ini penting sebagai pengungkapan tambang timah yang dimiliki Indonesia sejak jaman Hindia Belanda.

“Ini harus diungkap oleh ANRI agar masyarakat tahu sejak Hindia Belanda Indonesia memiliki kekayaan alam yang perlu diungkap kembali. Timah ini sebagai kekayaan yang tidak terhingga dan terbesar di dunia. Betapa kayanya Indonesia dengan aset-aset pertambangan,” tegasnya. (tety)

Leave a Comment