18.1 C
New York
07/05/2026
Aktual

Menko PMK: Pendekatan Budaya Modal Kebangkitan Bangsa

puan

JAKARTA (Pos Sore) – Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, mengungkapkan, Presiden RI pertama Soekarno, pada pidato 17 Agustus 1956, berpidato.

Ada tiga fase atau tahap revolusi bangsa, yaitu tahap revolusi fisik (physical revolution), tahap bertahan hidup (survival), dan tahap penamanan modal (investment).

Tahap investasi mencakup upaya penanaman modal dalam arti yang seluas-luasnya. Mulai dari investasi keterampilan manusia (investment of human skill), investasi material (material investment) hingga investasi mental (mental investment).

“Investasi keterampilan dan material amat penting, namun yang lebih penting lagi adalah investasi mental,” kata Puan saat menjadi pembicara kunci penutupan Diskusi Panel Serial bertema ‘Urgensi Nilai Budaya Bangsa Bagi Pembangunan Indonesia’ yang diadakan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB), di Jakarta, Sabtu (3/12).

Menko PMK hadir didampingi Sesmenko PMK, Yohanes Baptista Satya Sananugraha, beserta Staf Khusus Menko Bidang PMK yang menangani Hubungan dan Bantuan Luar Negeri, Prasetijono Widjojo.

Menurut Puan, investasi keterampilan dan material tidak bisa menjadi dasar persatuan dan kemakmuran bersama tanpa didasari investasi mental. Tanpa kekayaan mental, maka upaya-upaya pemupukan keterampilan dan material hanya akan melanggengkan ketidakadilan semata.

“Kita juga telah mengetahui, prasyarat budaya merupakan modal kebangkitan suatu bangsa yang dapat kita lihat dari sejarah kemajuan bangsa-bangsa lain,” ujarnya.

Puan menegaskan, reformasi sosial tidak akan pernah muncul hanya mengandalkan reformasi kelembagaan politik dan ekonomi, melainkan perlu berjejak pada reformasi sosial-budaya. Karena itu, pemerintah kembali melancarkan Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Ia melanjutkan, Gerakan Nasional Revolusi Mental, membutuhkan gotong royong semua pihak agar dapat tercapai perubahan yang diinginkan. Salah satu bentuk keteladanan yang sedang dibangun oleh pemerintah adalah Peningkatan Pelayanan Publik.

Yaitu Pelayanan Publik yang jelas waktu, prosedur, dan biaya. Begitu pula Pelayanan Publik yang Cepat (dwelling Time Bongkar muat Kontainer), Saber Pungli, deregulasi dan debirokratisasi.

Pemerintah, tegasnya, tidak ingin hanya sekadar mengajak masyarakat melakukan Revolusi Mental, tetapi institusi Pemerintah juga harus berubah dan menjadi teladan Gerakan Nasional Revolusi Mental.

“Kita semua, secara bersama-sama harus melakukan revolusi mental, dengan tujuan terbentuknya karakter bangsa yang berintegritas, beretos kerja positif dan senantiasa bergotong-royong,” tutup puan.

img_20161203_115904

Karenanya, Menko PMK mengapresiasi dan berterima kasih kepada YSNB yang menggelar Diskusi Budaya selama 1,5 tahun ini.

“Tujuan diadakannya kegiatan panel diskusi adalah rasa untuk membangkitkan nasionalisme bangsa ini yang sudah mulai terkikis tanpa membedakan ras, suku,dan budayanya,” katanya.

Hadir dalam kesempatan ini, Ketua Pembina YSNB Pontjo Sutowo, Ketua Yayasan YSNB Iman Sunaryo, anggota DPR, tokoh budaya, dan masyarakat umum lainnya. (tety)

Leave a Comment