JAKARTA (Pos Sore) –Ketua Gabungan Industri Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (Gakeslak),Sugihadi mengungkapkan, sekitar 90 persen produk kacamata dan alat kesehatan yang beredar di dalam negeri masih impor. Hanya sekitar 10 persen saja yang berasal dari industri dalam negeri.
“Kalau kita ingin memproduksi ,syrakatnya sangat ketat dan kita harus mengikuti standar internasional. Makanya harus pelan-pelan. Kita harus mendatangkan partner dari luar negeri untuk transfer teknologinya.”
Hal ini terjadi katanya, akibat ketatnya persyaratan produksi yang diatur pemerintah karena berkaitan langsung dengan kesehatan manusia. Selain itu, faktor sumber daya manusia yang masih terbatas serta penguasaan teknologi yang masih minim memperparah mandegnya pengembangan industri ini.
“Kalau kita ingin memproduksi ,syrakatnya sangat ketat dan kita harus mengikuti standar internasional. Makanya harus pelan-pelan. Kita harus mendatangkan partner dari luar negeri untuk transfer teknologinya,” ungkap Sugihadi saat keterangan pers soal pelaksanaan Pameran Internasional Indomedicare dan Indo Optical 2016, yang akan digelar di Pekan Raya Kemayoran, 23-25/11, di Kementerian Perindustrian, Senin 21/11.
Padahal kata Sugihadi, potensi pasar di dua industri sangat besar. Makanya, harus ada kemudahan bagi investor asing yang bermiat berinvestasi di dalam negeri khususnya untuk ketersediaan bahan baku yang hingga saat ini impor. KHususnya, bahan baku plastik dan komponen.
Menanggapi hal ini, Direktur Industri Tekstil dan Aneka, Kementerian Perindustrian, Muhdori, mengemukakan, untuk pengembangan industri kacamata mestinya harus ada harmonisasi antara impor dan produksi di dalam negeri.
“Ke depan, kalau kita bisa sudah bisa memproduksi baru kita bisa melakukan harmonisasi dengan impor. Kita tidak bisa serta merta menutup keran impor jika belum bisa produksi sendiri.”
Seperti impor alat kesehatan yang masih tinggi kata Muhdori, karena Indonesia belum bisa memproduksi karena dibutuhkan teknologi presisi yang tinggi. “Makanya, kalau setiap investasi yang masuk harus ada transfer teknologi. Kita menargetkan dalam 3 tahun ada transfer teknologi di SDM. Tentunya, standard an kualitas harus tinggi.”
Makanya, kata Muhdori, salah satu cara untuk meningkatkan potensi investasi di industri ini, melalui pameran yang akan digelar 23 November ini. Dengan adanya pameran ini, maka akan ada pertemuan antara investor lokal dan asing atau dengan partner masing-masing. Pameran ini akan diikuti sekitar105 perusahaan dari 15 negara.
Hal serupa juga diungkapkan Wenjoko Sidahrta satu-satunya produsen kacamata lokal yang hingga saat ini masih bertahan dngan gempuran kacamata impor yang nilainya mencapai 90 persen dimana 90 persen dari produk impor itupun illegal (KW).
“Pameran ini sebagai ajang yang sangat pas untuk promosi dan menjual produk lokal di negeri sendiri. Sekaligus memperkenalkan produk dan menemukan partner atau pemain dari luar negeri.”
Dia sendiri sebenarnya mengakui di Indonesia masih ada industri kacamata walaupun hanya satu. Maka dari itu, dia sangat mendukung upaya pemerintah untuk menarik minat investasi dari luar negeri ketimbang hanya mengimpor barang jadi. Apalagi di industri ini banyak menyerap tenagakerja. (fitri)
