JAKARTA (Pos Sore) – Jumlah dokter spesialis bedah tulang anak di Indonesia, rupanya sangat langka. Bahkan, bisa dihitung jari. Karena, ternyata, jumlahnya hanya ada 10 dokter spesialis tersebut. Itupun sebanyak 3 di antaranya sudah memasuki masa pensiun.
“Saya itu dibilang langka, bahkan perlu masuk museum kata teman saya. Karena hanya ada 10 dokter bedah tulang anak di Indonesia,” ungkap DR.dr.Aryadi Kurniawan, Sp.OT (K), dokter bedah ortopedi dan traumatologi anak dari Rumah Sakit Premier Jatinegara, dalam Media Gathering bertajuk ‘Orthopaedic Update in Surgery’, yang diadakan Ramsay Health Care Indonesia (RHCI), Kamis (25/8).
Dengan langkanya profesi ini, tentu ada kesulitan tersendiri hingga dokter ortopedi anak hanya ada 10 orang di Indonesia. Sedikitnya jumlah dokter ortopedi anak ini, diakuinya, tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia.
“Jaman dalu ortopedi itu dokter patah tulang, jadi dalu belum ada kebutuhan. Begitu masyarakat itu tumbuh, kita sebagai negara berkembang, dirasa perlu orang untuk belajar ortopedi anak. Maka dikirimlah orang-orang sekolah di luar, di sini belum ada sekolahnya,” ujarnya.
Padahal, menurut dokter yang praktik di Rumah Sakit Premier Jatinegara ini, kesempatan berkarier di bidang ini sangat besar. Karena jumlah kasus CTEV atau Congenital talipes equino-varus atau clubfoot adalah kelainan bawaan kaki pada anak yang paling sering ditemui, cukup besar.
“Kita punya 4,8 juta bayi sehat setahun, dengan angka itu kasus CTEV yang kaki bengkok ada 4000 kasus, kasus DDH atau Development Dysplasia of the Hip yaitu kelainan bawaan yang biasanya akibat dibedong yang bisa menyebabkan tulang geser dan tak tumbuh,” ungkapnya.
Katanya, ada 4.000 sampai 8.000 kasus, CP (Cerebral Palsy atau lumpuh otak) dari 8.000 sampai 12 ribu kasus, banyak sekali sebenarnya, yang tidak terdeteksi.
Dokter Aryadi berpendapat, profesi yang dijalani dengan bidang yang digelutinya kemungkinan ini kurang diminati, hingga hanya ada 10 dokter di seluruh Indonesia, adalah karena sekolahnya sendiri belum ada di Indonesia.
“Karena sekolahnya belum ada, sekolahnya di luar negeri semua, mahal, lama. Dari 10 itu yang benar-benar sekolah tidak 10 lho, seperti Profesor-profesor itu, zaman beliau otodidak saja, zaman mereka belum ada, kami yang masih muda yang sekolah ke luar negeri,” ujarnya. (tety)
