JAKARTA (Pos Sore) – Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE),Kementerian Perindustrian, Hasbi Assidik Syamsuddin mengungkapkan, produksi industri alat pertanian lokal masih sekitar 30 persen.Sementara, sisanya masih di impor dari luar negeri. Dengan luas areal pertanian Indonesia mencapai 1,922.570 km persegi mestinya ini potensi besar bagi industri alat pertanian bias dimanfaatkan. Hanya saja, harus ada upaya kerjsama dari Asosiasi Mesin dan Alat Pertanian (Alsintani) dengan pihak terkait di kementerian untuk meningkakan teknologinya.
”Potensi hasil produksi alat mesin pertanian kita sudah bagus dan mampu dan tak kalah dari produk impor. Hanya saja, harus ada kesadaran para pelaku di industri ini untuk lebih peduli dan sadar menggunakan produk dalam negeri (P3DN).”
Apalagi,katanya, hasil produksi alat dan mesin pertanian lokal lebih kuat basisnya untuk aktifitas penanaman awal hingga akhir produksi dalam bercocok tanam sekaligus meningkatkan kekuatan pangan nasional.
”Potensi hasil produksi alat mesin pertanian kita sudah bagus dan mampu dan tak kalah dari produk impor. Hanya saja, harus ada kesadaran para pelaku di industri ini untuk lebih peduli dan sadar menggunakan produk dalam negeri (P3DN),”ungkap Hasbi di sela Pembukaan pameran Inapalm Asia,Inagrintech,Inagrinchem dan Inaforestech 2016, di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kamis (25/8).
Karena, kata Hasbi, hasil produksi alat dan mesin pertanian dengan pencapaian tingkat kandungan lokal (TKDN) sekitar 40 persen-86 persen, mestinya tidak ada alasan lagi bagi pemangkukepentingan untuk tidak menngguna alat ini dalam menggenjot produksi.
Seperti, traktor tangan, katanya, sudah mencapai TKDN hingga 80 persen dan juga sudah di ekspor ke pelbagai negara. Kemenperin s ndiri,katanya, terus menggodok dan meluncurkan kebijakan dalam menggenjot pengunaan produk lokal dengan cara terus bekerjasama dengan instansi terkait untuk meningkatkan teknologinya.
“Kita juga agar mendukung pembelian dari pemerintah pusat dan daerah untuk alsintani ini terus ditingkatkan. Di sisi lain, peran pameran alsintani diharapkan akan semakin menggenjot pertumbuhan industry ini dan terus maju menembus pasar global.
Ia menyatakan sangat mengapresiasi inisiatif dari pengelola pameran PT Global Expo Management (GEM), yang mengelar pameran kali ini berskala internasinal. Dengan bgeitu, produk alsintansi lokal akan semakin dikenal di pasar global.
Direktur GEM,Baki Lee, pada kesempatan yang sama menyatakan, pameran ini diharapkan akan semakin memperkuat daya kelola sector pertanian dalam menggenjot produki pangan nasional. “Dengan luas areal pertanian Indonesia mencapai 1,922.570 km persegi,tentunya akan membuka peluang pengembangan alsintani.”
Indonesia, menurut Baki,sejatinya malah memiliki potensi sangat besar ketimbang Thailand,Vetnam,Philipina maupun Negara-negara Eropa.Hanya saja, Indonesia masih kalah dalam bidang teknologi pengembangan industri pertaniannya.Untuk itu, dengan adanya pameran ini akan semakin membuka mata dan peluang terjadinya pembelian ataupun transfer alsintani dengan negara lain.
Penggunaan traktor tangan untuk aktifitas pertanian di Indonesia menurut dia masih minim. Jika di Amerika Serikat 10 ketralahan bisa digarap satu operator mesin tidak halnya dengan Inonesia. Populasi penggunaan 1 unit traktor tangan di Indonesia untuk 400 petani dengan lahan seluas 100 hektar. Artinya,masih banyak lahan yang digarap menggunakan tenaga hewan dan manusia.
Rata-rata teknologi alsintani yang digunakan kata dia, masih sederhana. Pada 2015,penggunaan alsintani mencapai 23.931 unit Jika ingin menggenjot produksi 6-20 persen,tentunya semua teknologi harus digunakan dengan metoden dan cara yang benar.
Ätas dasar ini,kami tergerak menjembatani para pelaku usah di sektor alsintani bias bertemu berbisnis di pameran yang berskala besar ini yang kita gelar di PRJ ini. Dengan harapan, akan semakin membuka peluang bagi industry terkait di dalam negeri mendapatkan peluang serta pengembangan pangan nasional.” (fitri)
