JAKARTA (Pos Sore) — Anda pria memasuki usia 30 tahun? Nah, di usia matang seperti ini perlu mewaspadai kesehatan kelenjar prostat Anda. Jika Anda tak ‘sadar-sadar’ juga, dapat berdampak serius seperti terjadinya pembesaran prostat yang abnormal. Dalam keadaan parah, bisa saja terkena kanker prostat dalam stadium lanjut. Tentu suatu keadaan yang tidak diinginkan, bukan?
Spesialis Urplogi Siloam ASRI dr. Chaidir Arif Mochtar, SpU (K) Phd, menegaskan yang perlu diketahui para pria, prostat yang terletak di leher kandung kemih berperan dalam mensekresi sekitar 30% dari total volume air mani. Cairan ini mengandung sejumlah komposisi nutrisi yang dibutuhkan untuk memperoduksi sperma.
Karenanya, pria yang sering mengalami rasa nyeri saat buang air kecil segeralah memeriksakan diri ke dokter atau laboratorium. Sebab jika dibiarkan begitu saja, bisa jadi akan menderita kanker prostat. Terlebih kanker ini kerap muncul tanpa gejala, namun pasien dapat merasakan nyeri pada tulang.
Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), kanker prostat adalah kasus kanker paling umum urutan kedua pada pria. WHO melansir ada sekitar 1,1 juta pria di seluruh dunia didiagnosis menderita kanker prostat dan terdapat 307 ribu kasus kematian pada 2012. Sedangkan di Indonesia, pada 2012 terdapat sekitar 13.600 kasus dengan angka kematian hingga 9.191 kasus.
“Karena itu, masyarakat harus rutin melakukan deteksi dini supaya bisa mencegah penyakit tersebut. Secara reguler, periksakan diri, bisa dengan cara tes PSA (prostate specific antigen) di lab. Atau dengan cara colok dubur secara berkala dengan jari, ini akan bisa mendeteksi kanker prostat,” kata Spesialis Urologi Siloam ASRI, dr Chaidir Arif Mochtar, SpU (K) Phd dalam Siloam ASRI Media Gathering bertema ‘Kenali Gangguan Prostat’, di Jakarta, Kamis (28/7).
Menurutnya, di Eropa dan Amerika, deteksi dini terhadap penyakit ini bisa mencapai 90% karena mereka mengerti pentingnya kesehatan, ingin menikmati hidup dan hidup lebih lama. Kalau di Indonesia tak sampai 40 persen.
Ditambahkan dr. Chaidir, deteksi dini kanker prostat dapat dilakukan dengan cara skrining. Namun, akan lebih baik lagi bila kankernya diketahui di stadium awal.
Pembedahan dan radioterapi merupakan modalitas terapi untuk kanker yang terlokalisir. Sementara, terapi hormonal efektif dalam pengobatan kanker yang telah metastasis. Dan, untuk kanker dengan kastrasi resisten respon dengan pengobatan kemoterapi lebih efektif.
Ia menambahkan, seseorang yang sudah terkena kanker prostat, tingkat kesembuhannya besar jika bisa terdeteksi sejak dini. Namun seandainya sudah sampai stadium tiga, Chaidir tak bisa menjamin bisa sembuh total.
“Kalau sudah keluar dari organ, prostat bisa stadium 3. Untuk kesembuhannya, saya ke pasien tidak bilang sembuh, tapi penyakit Anda terkontrol. Karena bahaya bilang sembuh, ternyata nanti kambuh lagi,” tandasnya. (tety)
