JAKARTA (Pos Sore) — Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka,Kementerian Perindustrian,Muhdori menegaskan, maraknya penjualan tekstil bekas khususnya pada lebaran minggu lalu tidak otomiatis menggerus atau bajkan mengancam kebaradaan industri tekstil di dalam negeri. Karena, dari sisi kualitas dan harga yang ditawarkan tekstil produksi lokal masih unggul dan mampu bersaing dengan produk impor apalagi tekstil bekas.
“Saya kira dampaknya tidak terlalu siknifikan. Kalaupun ada paling persentasenya tidak lebih dari 30 persen. Itupun terbatas di beberapa daerah khususnya wilayah perbatasan yang memang banyak jalur tikusnya yang memungkinkan tekstil ilegal itu masuk.”
Muhdori memaparkan, sesungguhnya kehadiran tekstil bekas itu ilegal karena memang dilarang masuk ke dalam negeri. Sayangnya, dengan luas wilayah kepualauan Indonesia yang begitu sulit dipantau dan banyaknya akses jalur tikus membuat produk ini masih tetap merembes masuk ke dalam negeri.
“Saya kira dampaknya tidak terlalu siknifikan. Kalaupun ada paling persentasenya tidak lebih dari 30 persen. Itupun terbatas di beberapa daerah khususnya wilaya perbatasan yang memang banyak jalur tikusnya yang memungkinkan tekstil ilegal itu masuk,” ungkap Muhdori, di Kemenperin, Rabu (13/8).
Akan tetapi, katanya, kehadirannya tdaik begitu besar pengaruhnya baik dari sisi kualitas, kuantitas dan harga yang ditawarkan. “Memang murah, akan tetapi pakaian baru justru lebih baik ketimbang pakaian bekas. Dan orang Indonesia juga semakin kritis dan mampu memilah tekstil berkualitas baik dan tidak.”
Ia mengakui, masih mahalnya harga tekstil di dalam negeri karena ada sejumlah komponen seperti bahan baku serta alam, rayon yang sebagai bahan baku tekstil masih di impor. Untuk itu, kata Muhdori, pemerintah terus berupaya memberikan insentif dan kemudahan bagi kalangan industri di dalam negeri agar tetap bisa bersaing.
Kecuali itu, pasokan energi berupa gas juga sangat menentukan daya saing industri ini di pasar lokal maupun global. “Memang masih kesulitan sih kita untuk gas. Tetapi, kan terus diupayakan agar harganya bisa diturunkan paling tidak tidak terlalu tinggi dibanding pesaing kita khususnya di Asean.”
Kemenperin sendiri,katanya, terus menelurkan kebijakan seperti pemberian keringanan dalam restrukturisasi mesin yang selama ini pernah digelontorkan. “Memang tidak terserap semuanya dari anggaran yang kita keluarkan. Makanya, ke depan bantuan reskturkturisasi ini akan lebih variatif sifatnya. Jika selama ini fokus untuk permesinan, ke depan bisa untuk keperluan lainnya. Disesuaikan dengan kebutuhan industri itu sendiri. Bukan juga hanya tekstil, tetapi bisa juga sepatu dan lainnya.” (fitri)
