06/05/2026
Aktual

IDAI Jaya Gelar Edukasi ‘Menuju Anak Indonesia Sehat, Tinggi dan Cerdas’

Menteng-20160602-02487

JAKARTA (Pos Sore) — Anak dikatakan sehat bila ia jarang sakit, dapat bertumbuh dan berkembang sesuai potensinya. Faktor genetik dan lingkungan memiliki peran penting dalam hal ini.

Untuk pertumbuhan yang sehat anak memerlukan nutrisi, imunisasi lengkap, tidur dan aktivitas bermain. Selain itu, anak memerlukan kasih sayang dan stimulasi sesuai tahapan usia anak.

“Kebutuhan nutrisi itu terutama perlu diperhatikan pada 1000 hari pertama kehidupan agar anak bertumbuh baik, memiliki imunitas, menjadi cerdas dan sejahtera emosinya,” tegas Ketua IDAI Jaya, Dr. Rini Sekartini, SpA(K), di kantor IDAI Jaya, Jakarta, Kamis (2/6).

Ia menandaskan, makanan terbaik bayi adalah Air Susu Ibu, sementara itu, makanan pendamping ASI perlu diberikan paling lambat pada usia 6 bulan agar kebutuhan energi yang dibutuhkan bayi dapat tercukupi.

“Ini perlu terus disuarakan, karena di Indonesia prevalensi angka gizi buruk masih tinggi mencapai 5,7% dan gizi kurang 13,9%,” ujar Rini.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan juga menunjukkan masalah stunting (pendek) pada balita masih cukup serius, dengan prevalensi yang mencapai 37,2 persen. Di sisi lain, prevalensi gemuk pada anak balita juga masih tinggi yaitu 11.9 persen.

Selain nutrisi, faktor hormonal berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Agar anak dapat mencapai tinggi badan yang optimal, beberapa hormon berperan penting, yaitu hormon tiroid, hormon pertumbuhan, hormon tulang, hormon paratiroid, dan hormon pubertas.

“Hormon Tiroid jika tidak tercukupi saat bayi akan mengganggu perkembangan otak dan mengganggu pertumbuhan fisik anak,” paparnya.

Dikatakan, untuk menilai pertumbuhan anak berjalan baik, anak perlu dipantau dengan cara mengukur dan memastikan berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala lalu memasukkan data tersebut ke dalam kurva standar secara berkala setiap bulannya pada usia kurang dari 1 tahun. Dengan bertambahnya usia, pemantauan dapat dilakukan setiap 3-6 bulan sekali.

“Sayangnya Riskesdas 2013 tentang pemantauan pertumbuhan anak diperoleh data bahwa frekuensi penimbangan anak umur 6-59 bulan selama enam bulan terakhir sangat rendah. Sebanyak 34,3% tidak pernah melakukan pemantauan tumbuh kembang dan sekitar 44,6% melakukan pemantauan lebih dari 4 kali,” tuturnya.

Faktor lain yang berperan terhadap pertumbuhan dan perkembangan otak sebagai pusat kecerdasan selain nutrisi adalah stimulasi. Stimulus dibutuhkan sejak janin dalam kandungan untuk mencapai potensi kecerdasan anak yang maksimal.

Ibu dapat melakukan stimulasi dengan suara, perabaan atau gerakan, setelah itu berikan stimulasi sesuai tahapan usia meliputi keempat ranah perkembangan yaitu motor kasar, motor halus, bahasa – komunikasi, sosial emosi dan kemandirian.

Jadi untuk dapat menjadi anak yang sehat, tinggi, dan cerdas, penuhi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembangnya (nutrisi, imunisasi, tidur, aktivitas fisik dan bermain) serta pantau tumbuh kembangnya secara berkala.

Karenanya, guna meningkatkan pemahaman orang tua pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan untuk mencapai tumbuh kembang anak yang optimal, IDAI Jaya menyelenggarakan edukasi serentak di 72 rumah sakit di seluruh Jakarta bertema ‘Menuju Anak Indonesia Sehat, Tinggi dan Cerdas’ pada Sabtu 4 Juni 2016.

Ketua Panitia Penyelenggara HUT IDAI Jaya ke-62 Dr. Harijadi SpA, menjelaskan, kegiatan ini untuk memperingati Hari Anak Nasional 2016, sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun ke-62 organisasi profesi itu. Tema edukasi IDAI Jaya kali ini memang menjadi dambaan setiap orangtua yang menginginkan anaknya tumbuh sehat, tinggi, dan cerdas.

“Masalah kesehatan anak di Indonesia cukup beragam. Data nasional melaporkan masih tingginya angka kematian bayi dan balita. Selain masalah penyakit, beberapa masalah kesehatan anak mencakup tidak terpenuhinya kebutuhan dasar anak juga masih memprihatikan,” katanya. (tety)

Leave a Comment