JAKARTA (Pos Sore) — Herbalife — penyedia produk nutrisi global, menyelenggarakan Wellness Tour 2016 dengan menghadirkan salah satu anggota Nutrition Advisory Board (NAB) Herbalife Luigi Gratton M.D., M.P.H. Wellness Tour 2016 ini akan diselengarakan di 26 kota besar di kawasan Asia Pasifik.
Kehadiran Luigi Gratton di Indonesia bertujuan untuk memperkuat komitmen perusahaan guna mendorong kesadaran masyarakat Asia Pasifik meningkatkan kualitas kesehatan melalui asupan nutrisi yang tepat disertai aktifitas fisik atau olahraga.
Kegiatan rutin tahunan ini dikemas dalam bentuk kunjungan/roadshow sejumlah Nutrition Advisory Board (NAB) Herbalife. NAB terdiri dari ahli di bidang nutrisi dan kesehatan dari berbagai negara yang mengampanyekan pentingnya menjaga gaya hidup sehat melalui asupan nutrisi seimbang dan olahraga ke seluruh dunia.
Pelaksanaan Wellness Tour 2016 ini menjadi momen yang tepat bagi Herbalife karena sekaligus menjadi momentum untuk menindaklanjuti hasil survey bertajuk ‘Nutrition At Work’ yang dilakukan Maret lalu.
Survey ini ditujukan untuk memahami gaya hidup dan perilaku para pekerja di seluruh Asia Pasifik serta melibatkan 5500 pekerja penuh di 11 negara di Asia Pasifik.
Menurut survey ini, mayoritas pekerja di Asia Pasifik menerapkan sedentary lifestyle (kurang gerak) di lingkungan kerjanya. Sembilan dari 10 pekerja (85%) di Asia Pasifik menghabiskan setidaknya 6 jam berkutat di meja kerja mereka dalam sehari.
Sementara itu, 5 dari 10 pekerja menyantap makan siang di meja kerja mereka, dua hingga lima kali dalam sepekan. Indonesia menjadi negara tertinggi dengan jumlah pekerja yang menyantap makan siang di atas meja kerja mereka. Sebanyak 71% pekerja menyantap makan siang mereka di atas meja kerja dua hingga lima kali dalam sepekan.
Survey ini juga mengungkapkan kalau sebagian besar pekerja di Asia Pasifik (83%) berolahraga kurang dari tiga kali dalam sepekan.
Sebanyak 6 dari 10 pekerja melakukan aktivitas fisik dalam satu hari di tempat kerja mereka selama kurang dari 30 menit. Dengan data tersebut, masyarakat pekerja memiliki risiko tinggi untuk terserang penyakit degeneratif seperti obesitas dan diabetes.
Kendati demikian, risiko mengalami obesitas bisa saja dihindari jika para pekerja bisa mengendalikan konsumsi nutrisi dan pola olahraga mereka. Hampir 7 dari 10 pekerja (67%) menyatakan, di satu sisi, mereka berjuang untuk mewujudkan hidup aktif yang sehat, tetapi di sisi lain, sebagian besar dari mereka juga kesulitan untuk tetap aktif selama hari-hari kerja.
Luigi Gratton mengatakan, hasil survey ini patut untuk dijadikan perhatian serius oleh semua pihak. Masyarakat kita telah mengalami perubahan gaya hidup cenderung ke arah yang tidak sehat akhir-akhir ini. Dengan demikian, tingkat kerentanan masyarakat Asia Pasifik untuk terdampak penyakit degeneratif juga masih tinggi.
“Ini yang menjadi dasar kami untuk terus melakukan roadshow untuk mengedukasi dan mendorong masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat serta dilengkapi dengan olahraga,” katanya, di Jakarta, Selasa (17/5).
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar di ekonomi, sosial dan budaya. Sangat disayangkan potensi besar tersebut terhalang oleh tingginya prevalensi penyakit degenratif yang sekaligus akan menghambat produktivitas masyarakatnya.
Padahal, di Indonesia sendiri, saat ini tengah mengalami beban ganda (double burden) permasalahan nutrisi, yaitu kekurangan dan kelebihan gizi yang merupakan tantangan kompleks karena terjadi di semua kelas sosial masyarakat Indonesia.
Mengutip data Risek Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 Kementerian Kesehatan, prevalensi penduduk dewasa kurus mencapai 8,7%, berat badan berlebih sebesar 13,5% dan obesitas 15,4%.
Pengentasan masalah ini tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, namun, memerlukan dukungan pihak swasta dan kesadaran masyarakat itu sendiri.
“Kami yakin dengan melakukan program pengelolaan berat badan yang tepat seta didukung asupan nutrisi dan aktivitas olahraga yang cukup, kualitas kesehatan masyarakat Indonesia akan dapat meningkat. Dampaknya juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya,” ujarnya. (tety)
