JAKARTA (Pos Sore) – Pengamat politik Indo Barometer, Muhammad Qodari menilai ketokohan Aburizal Bakrie masih menjadi penentu untuk kemenangan kandidat yang maju untuk memperebutkan kursi Beringin Satu pada Musyawarah Luar Biasa (Munaslub) Partai Golongan Karya (Golkar) di Nusa Dua, Bali, pada 15-17 Mei.
Menurut Qodari, kemenangan calon di munaslub nanti akan ditentukan penguasaannya atas tiga hal. Pertama, yang menjadi poin utama yakni dukungan ARB karena yang bersangkutan saat ini masih menduduki kursi sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Hingga saat ini ARB dinilai masih memiliki pengaruh kuat terhadap pemilik suara di munaslub.
“Saya melihat variabel pertama adalah dukungan ARB sebagai ketua umum. Bagaimanapun, disadari atau tidak, semua DPD atau pemegang hak suara masih loyal terhadap ARB,” kata pengamat itu.
Kedua adalah arah dukungan pemerintah. Menurut Qodari, preferensi pemerintah sedikit banyak akan memberi pengaruh terhadap pemenangan. Karena siapa figur calon ketua umum yang dinilai diterima dan kurang diterima, akan berdampak pada suara pengurus di daerah.
“Tentu aspek ini (dukungan pemerintah) sulit dikonfirmasi. Makanya terjadi proses klaim mengklaim. Nanti tinggal pengurus daerah saja yang harus pintar membaca sinyal, calon mana yang lebih diterima oleh pemerintah.”
Faktor ketiga, kata Qodari, adalah kekuatan dari calon bersangkutan. Kader yang lebih senior dan berpengalaman serta memiliki komunikasi yang baik dengan pengurus daerah memiliki peluang lebih besar.
Berdasar AD/ART Partai Golkar, di mana untuk menjadi ketua umum minimal mendapat dukungan 30 persen suara, Qodari memprediksi dari delapan orang calon akan keluar dua atau tiga orang dengan suara terbanyak. Setya Novanto, Ade Komarudin dan Aziz Syamsuddin dinilai calon yang memiliki peluang besar menempati posisi tiga teratas.
Alasan menempatkan ketiganya sebagai kandidat terkuat karena dukungan yang diperolehnya hasil kombinasi tiga variabel yang menjadi syarat kemenangan.
“Pada hari ini yang saya amati Novanto, Ade dan Aziz. Intinya tiga elemen itu mereka miliki, tentu dengan kadar masing-masing. Ada salah satu calon dengan variabel pertama dia kuat sekali, ada calon yang kuat sekali dengan variabel ketiga, dan seterusnya,” demikian Qodari. (akhir)
