17.3 C
New York
07/05/2026
Aktual

Balitbangtan: Pembangunan Pertanian Harus Berbasis Ekoregion

Exif_JPEG_420

JAKARTA (Pos Sore) – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian Kementerian Pertanian meluncurkan dua buku berjudul: ‘Pembangunan Pertanian Berbasis Ekoregion’ dan ‘Memperkuat Kemampuan Swasembada Pangan’. Kedua buku ini diluncurkan untuk merealisasikan ketahanan pangan yang tak hanya terfokus pada beras.

Kepala Balitbang Pertanian Kementerian Pertanian, Dr. Muhammad Syakir, mengatakan Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumberdaya, namun hanya bertumpu kepada beras untuk kedaulatan pangan.

Ia tak bisa membayangkan apa jadinya jika terjadi El Nino atau serangan hama yang jelas berdampak pada anjloknya produksi beras nasional, yang ujungnya terjadi kelangkaan beras. Karenanya, ia menekankan, Indonesia jangan mengandalkan komoditas beras semata.

“Untuk menunjang kemandirian pangan dalam jangka panjang kebijakan investasi tidak perlu hanya dibatasi pada sistem sawah beririgasi tetapi diarahkan untuk memanfaatkan semua potensi yang tersedia,” katanya, di kantor Balitbang Pertanian, Jakarta, Rabu (20/4).

Menurutnya, lahan kering menjadi salah satu potensi yang segera perlu dipetakan mengingat adanya peluang-peluang yang muncul dalam pengembangan teknologi. Terlebih lahan persawahan menyempit tergerus program pembangunan.

“Karenanya, kita perlu mempertimbangkan ragam ekosistem, ekologi sehingga, Indonesia tidak semata-mata bersandar kepada beras saja. Balitban Pertanian Kementan, bertekad untuk membangkitkan lagi produk produk pangan yang lain, tidak hanya beras, tapi juga jagung, umbi-umbian, yang sekiranya memiliki produktivitas yang cukup baik,” ujarnya.

Pertimbangan itu pun dikupas dalam buku Pembangunan Pertanian Berbasis Ekoregion’. Pembangunan ini sangat erat kaitannya dengan kegiatan pengelolaan sumberdaya alam secara terpadu dengan tujuan menghasilkan komoditas pertanian yang beraneka ragam, termasuk komoditas pangan. Namun pembangunan harus lebih mengedepankan aspek perlindungan dan pengelolaan lingkungan atau ekosistem yang sejalan dengan UU no. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Pembangunan berbasis ekoregion ini pembangunan dengan pendekatan terpadu dalam suatu wilayah yang mengintegrasikan kepentingan ekonomi, sosial dan ekologi,” tuturnya.

Konsekuensi penerapan konsep ekoregion terhadap pembangunan sektor pertanian nasional adalah perubahan paradigma lama yang mendasarkan strategi pendekatan komoditas ke arah paradigm baru, yaitu pembangunan berdasar kondisi dan kebutuhan regional.

Kepala Balitbang mengakui upaya pencapaian swasembada pangan menghadapi tantangan yang semakin berat karena semakin terbatasnya sumberdaya pertanian. Sementara itu, resiko produksi pertanian juga semakin besar sejalan dengan semakin meningkatnya keragamanan perubahan iklim global yang menyebabkan terjadinya banjir, kekeringan, maupun peningkatan serangan organism pembasmi tanaman.

Belum lagi adanya liberalisasi pasar yang mendorong terjadinya peningkatan risiko harga dan ketidakpastian produksi serta pendapatan usaha tani.

“Buku Memperkuat Kemampuan Swasembada Pangan ini berupaya mengggali berbagai pemikiran kritis terhadap masalah pembangunan pertanian terutama pangan dan merumuskan langkah-langkah bagi pencapaian swasembada pangan,” tambahnya.(tety)

Pasar Minggu-20160420-02282

Leave a Comment