06/05/2026
Aktual

Pemerhati Gula Sebut Abdul Wachid Asbun

JAKARTA (Pos Sore) — Pemerhati Gula Nusantara, Gatot Triyono menyayangkan pernyataan anggota Komisi IV DPR RI, Abdul Wachid yang mendesak pemerintah menutup sembilan dari 11 industri gula rafinasi di tanah air. Pernyataan anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI tersebut dinilai Gatot asal bunyi alias asbun.

“Sebagai wakil rakyat salah satu tugasnya adalah melakukan kontrol terhadap kinerja pemerintah. Namun, pernyataan Abdul Wachid tersebut malah berpotensi membunuh industri makanan dan minuman nasional. Bahkan perusahaan usaha ini juga menyerap tenaga kerja formal dan informal hampir 18,9 juta pekerja,” kata Gatot dalam siaran persnya, Kamis (7/4).

Selain itu, kata Gatot yang juga sebagai Ketua Indonesia Sugar Watch, bila desakan Abdul Wachid itu dituruti pemerintah, ini akan meningkat Inflasi secara nasional karena mahalnya harga makanan dan minuman akibat tingginya harga gula.

Pernyataan anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah tersebut, kata Gatot, patut dicurigai pesanan para Importir Gula putih sebagai suatu cara untuk mem-bargain pemerintah guna membuka kran import gula putih. Padahal, impor gula putih tidak memberikan value added untuk industri dalam negeri karena tidak melalui proses rafinasi sehingga menambah beban devisa negara.

“Juga gula impor yang tanpa proses itu tidak terjamin kandungan ICUMSA sehingga bisa membahayakan kesehatan masyarakat yang mengkomsumsi. Gula impor ini juga pada akhirnya akan menghancurkan pabrik gula milik BUMN dan menjatuhkan harga panen tebu petani. Akibatnya petani tebu semakin merana.”

Gatot menyarankan, pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang katanya pro kepada masyarakat kecil tersebut untuk membiarkan 11 Industri rafinasi tetap memproduksi gula kristal sampai dengan tumbuhnya pabrik-pabrik Gula milik BUMN.

Dari proyeksi kebutuhan gula nasional untuk 2015 mencapai 5,77 juta ton. Dengan begitu kebutuhan gula nasional 2016 akan meningkat 5,97 persen, sedangkan produksi dalam negeri tahun ini diperkirakan menurun mendekati 2 juta ton. Produksi tahun lalu sekitar 2,9 juta ton.

“Dengan kondisi ini, keberadaan industri gula rafinasi sangat dibutuhkan. Jadi, pernyataan anggota DPR tersebut menunjukan ketidakpekaan yang bersangkutan terhadap nasib asyarakat kecil kalau sembilan dari 11 industri gula rafinasi ditutup,” kata Gatot

Dijelaskan, menurunnya produksi gula dalam negeri 2016 karena el nino (musim panas panjang-red) yang melanda Indonesia tahun lalu. Tanaman tebu baru yang ditanam pada awal 2015 mengalami stagnasi pertumbuhan akibat kekurangan pasokan air. Akibatnya produktivitas menurun dari 67,6 ton/ha pada 2015 menjadi 64 ton /ha pada tahun ini.

Akibat produksi gula yang terus anjlok ini, kebutuhan gula nasional untuk konsumsi langsung sekitar 3 juta ton lebih tidak cukup untuk dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Jika 11 industri gula rafinasi ditutup, akan terjadi kelangkaan gula nasioanal dan menyebabkan hancurnya jutaan Industri usaha kecil menengah penghasil makanan minuman,” jelas Gatot.

Seperti diberitakan sebelumnya, Abdul Wachid yang juga Wakil Ketua Panitia Kerja (Panja) Gula DPR RI meminta pemerintah mengevaluasi keberadaan sembilan dari 11 industri gula rafinasi yang izin operasionalnya sudah habis.

Pernyataan Abdul Wachid tersebut disampaikan dihadapan Dewan Pembina dan DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Direksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, PTPN X, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan PT Kebon Agung selaku mitra strategis petani tebu di Surabaya, 21 Maret 2016. (akhir)

Leave a Comment