JAKARTA (Pos Sore) — Industri pariwisata menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi nasional. Sektor ini tumbuh pesat dan mampu mempertahankan pertumbuhan yang tinggi. Beberapa tahun terakhir sektor pariwisata membuat kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan devisa.
Jumlah wisatawan terus meningkat. Pada 2015, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kunjungan wisatawan mancanegara pada 2015 mencapai 10,41 juta kunjungan. Ini menandakan melampaui target pemerintah, yakni 10 juta kunjungan.
Pengelolaan pariwisata yang berkembang pesat mendorong setiap destinasi bersolek agar mampu bersaing mendapatkan kue belanja wisata. Daerah-daerah berlomba menawarkan keunggulan potensi wisatanya. Jenis wisata juga terus berkembang, mulai perhotelan, kapal wisata, agrowisata, wisata alam, kuliner dan sebagainya.
Namun pengelolaan bisnis wisata ini didominasi swasta baik oleh modal asing maupun investor lokal yang kurang menyentuh kesejahteraan masyarakat sekitar. Adapun koperasi, sebagai salah satu badan hukum Indonesia masih menjadi pemain minoritas dalam bisnis pariwisata.
Karenanya, Kementerian Koperasi dan UKM mendorong koperasi kelola destinasi wisata untuk menyejahterakan warga setempat sebagai anggota. Tujuannya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan pariwisata berbasis komunitas sehingga menyejahterakan anggota koperasi dan masyarakat sekitar. Terlebih ada delapan model desa wisata yang tengah dikembangkan oleh Kemenkop.
Ke delapan desa wisata tersebut yakni Samosir (Sumut), Desa Sesaot dan Desa Banyumulek (NTB), Taman Laut 17 Pulau dan Kabupaten Ngada dan Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (NTT), Kampung Mempura, Riau, Danau Laut Tawar, Aceh Tengah, Candi Borobudur, Magelang.
“Kami mendorong agar koperasi di daerah wisata terus bergerak menjalankan berbagai usaha, antara lain penataan homestay, kapal wisata, penataan UKM sekitar objek wisata, dan banyak potensi lainnya,” kata Deputi Produksi dan Pemasaran Kemenkop UKM, I Wayan Dipta, saat berbicara dalam diskusi ‘Peluang Koperasi Kelola Bisnis Gurih Pariwisata’, yang diadakan Kemenkop UKM bekerjasama dengan Forum Wartawan Koperasi dan UKM (Forwakop), Rabu (6/4).
Hadir sebagia narasumber dalam diskusi ini Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata Oneng Setya Harini, Ketua Koperasi Pariwisata Catra Gemilang Borobudur Suherman, dan Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Dindin Junaidi.
Menurutnya, koperasi berpotensi dalam pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata. Kemenkop UKM menjadikan pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata sebagai program unggulan. Kemenkop memberikan fasilitas dan bantuan yang bersifat stimulan sebagai modal koperasi.
Ia menyebutkan salah satu desa di Jepang, Desa Yufuin. Di Yufuin, konsep bisnis wisata melalui koperasi sudah ada sejak 1927. Melalui koperasi yang menikmati bisnis pariwisata di Yufuin, bukan pengusaha besar, tetapi masyarakat setempat.
“Sehingga UKM-UKM-nya juga maju. Jadi, masyarakat lebih sejahtera. Kami mencoba dukung pengembangan wisata melalui wadah koperasi. Supaya yang menikmati wisata adalah masyarakat setempat dan bukan investor,” kata Dipta.
Ia mencontohkan di Lombok Utara, pada 2012, Kemenkop UKM membantu satu kapal penyeberangan ke Gili Trawangan, dengan biaya dari koperasi. Di 2016, kapal penyeberangan ke Gili Trawangan bertambah menjadi empat unit.
“Dengan koperasi yang menikmati masyarakat setempat. Itu yang kita ingin tuju,” kata Dipta. (tety)
