-
(ki-ka)Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe, Direktur PoliMedia Sarmada, dan Ketua Umum DPP PPGI Jimmy Junaento
JAKARTA (Pos Sore) — Ratusan perusahaan grafika Indonesia dan luar negeri memenuhi ruang auditorium kampus Politeknik Negeri Media Kreatif (PoliMedia) Jakarta, Kamis (17/3), untuk mengikuti International Conference ICC Color Management 2016, yang diadakan DPP Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia, PoliMedia, dan NPES Amerika.
Konferensi pertama bertema ‘Making A Future with Color Management’ itu dibuka oleh Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi, Jumain Appe. Yang juga dihadiri Direktur PoliMedia, Sarmada.
NPES sendiri adalah asosiasi untuk supplyer printing, publishing, dan converting technologies di Amerika yang terdiri dari 600 perusahaan nasional yang membuat pabrikan dan mendistribusikan ke seluruh dunia.
Menurut Debbie Vieder dari NPES, dipilihnya Indonesia karena Indonesia adalah pasar baru yang penting untuk memperkenalkan anggota NPES kepada pasar Indonesia. Dan, ini adalah waktu yang tepat.
Para peserta konferensi tidak hanya sekedar mendapatkan pencerahan mengenai perkembangan industri grafika di tengah gencarnya kemajuan teknologi informasi atau digital. Ahli luar negeri ternama diundang untuk berbagi tren terbaru dari manajemen warna.
Mereka juga mendapatkan semacam pembekalan bagaimana standar warna dalam bidang grafika begitu penting. Selain bisa menghemat waktu dan biaya, warna yang terstandarisasi dapat memuaskan konsumen, terutama pemesan dari industri-industi multinasional.
“Dalam grafik rantai pasokan seni, penggunaan efektif manajemen warna dapat membantu printer dan desainer mengatasi warna inkonsistensi dan komunikasi warna masalah,” kata Ketua DPP PPGI Jimmy Juneanto.
Menurutnya, dalam pasar global yang sudah kita rasakan saat ini adalah penting untuk mengedepankan standar produk maupun standar warna atas produk yang akan ditampilkan di manapun berada tampil di semua media maupun ruang.
Untuk menghadapi era global dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), siapapun yang bergerak di bidang grafika diminta untuk dapat menyesuaikan diri guna memenuhi standar yang diminta oleh pemesanan sesuai dengan standar yang sudah disepakati oleh industri secara umum.
“Mengapa yang diangkat manajemen warna, karena perusahaan-perusahaan besar maupun perusahaan multinasional menginginkan warna yang ditampilkan harus sama di berbagai dunia. Nah, di sini kita berusaha menerapkan standar yang sama. Kita ajak berbagai pihak yang bergerak di bidang grafika untuk sama-sama belajar,” ujarnya.
Tuti Buntaran, Waketum DPP PPGI, yang menjadi pembicara dalam konferensi itu, mengatakan, selama ini, dalam memenuhi warna suatu produk, tak sedikit perusahaan yang mengira-ngira ‘adonan’ warna sehingga tidak jarang warna yang dihasilkan berbeda, meski berwarna sama. Misalnya, produk A berwarna merah, namun di percetakan di tempat lain atau di negara lain warna merah ini mengalami distorsi menjadi merah pekat, merah terang, atau merah lainnya. Warna merahnya tidak sama persis dengan produk A.
“Cara yang mengira-ngira ini jelas suatu pemborosan dan tidak efektif. Karenanya perlu ada standarisasi yang sama di semua negara. Konferensi ini bisa dibilang pelatihan mengenai membuat warna yang standarnya sesuai dengan global. Resep membuat adonan warna yang tepat, tidak lagi mengira-ngira sehingga menjadi lebih efekttif dan tidak terjadi pemborosan,” tambah Tuti Buntaran.
Dengan adanya konferensi ini diharapkan ada kesamaan dalam pengertian warna pada suatu hasil cetak yang dapat dimengeri oleh semua pihak, baik pemberi pekerjaan maupun penerima pekerjaan di manapun mereka berada.
“Hal ini menjadi sangat penting bagi brand owner, terlebih untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki merk-merk terkenal untuk menampilkan warna yang standard di manapun mereka tersebut ditampilkan, baik media cetak, media luar ruang, media elektronik, mapun dalam media lain di atas segala jenis permukaan,” lanjutnya.
Para ahli dunia seperti Marco Boer, Steve Smileey (pemiliki Smiley Color & Associates), Elie Khoury (Presiden Alwan Color), dan Raymond Chydleur (ICC Vice Chair) menjadi pembicara dalam konferensi itu, berbagi informasi dan ilmunya kepada para pelaku industri grafika, para ahli grafika maupun para instruktur dalam ilmu grafika untuk diteruskan kepada para anak didiknya di sekolah-sekolah.
“Penting juga bagi para brand owneratau para pemilik produk terkemuka untuk juga mendalami bagaima mereka harus menyampaikan standar-standar yang harus dipenuhi kepada para suppliernya sehingga bisa dimengerti dengan bahasa yang sama dalam pemenuhan suatu standard yang harus dipenuhi,” katanya.
ICC sendiri adalah Konsorsium Warna Internasonal yang didirikan untuk menciptakan, mempromosikan dan mendorong standarisasi sistem manajemn warna dan komponennya. (tety)

