JAKARTA(Pos Sore)—Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI), Abdul Sobur, mengungkapkan, pengembangan disain dan penciptaan produk inovatif merupakan kunci sukses menghadang sekaligus memenangkan persaingan global menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asia.
“Disainer Indonsia dipilih tentunya yang memiliki citra serta dikenal di dunia internasional, berkarya dengan produk berbasis bahan baku local dan menjadi cermin kebanggaan talenta bangsa dan di dunia.Mereka (pembicara-red) telah menjadi ikon di negaranya dan mampu melakukan penetrasi terhadap pasar disain maupun produk mebel dunia.”
Mengingat target ekspor furniture dan kerajinan rotan dalam 5 tahun ke depan cukup besar mencapai US$5 miliar tentunya harus dimunculkan sesuatu yang baru dan inovatif dalam menciptakan produk yang disukai pasar.
Untuk mencapai target inilah, katanya, AMKRI berbarengan dengan penyelenggaraan Internasional Furnitur Exibition (IFEX) 2016 menggelar seminar berskala internasional.Dengan tema “Reimagining Craft & Desain In Asia seminar ini menghadirkan pembicara dan disainer kompeten di bidangnya seperti,Julian Reuter dari Jerman, ZhuXiaojie dari China,Alvin Tjitrowirjo (disaner produk interior intenasional) dan lainnya.
“Disainer Indonsia dipilih tentunya yang memiliki citra serta dikenal di dunia internasional, berkarya dengan produk berbasis bahan baku local dan menjadi cermin kebanggaan talenta bangsa dan di dunia.Mereka (pembicara-red) telah menjadi ikon di negaranya dan mampu melakukan penetrasi terhadap pasar disain maupun produk mebel dunia.”
Sementara itu, Koordinator Proyek Disain Indonesia, Rina Renville, menambahkan, sebenarnya untuk mengembangkan produk berbahan baku rotan yang diminati pasar, bisa dilakukan dengan menambah porsi para disaner lebih banyak untuk meningkatkan nilai tambah produk ini.
Selama ini produk kerajnan rotan Indonesia kurang diminati pasar lebih disebabkan oleh hasil produksi bersifat klasik dan dan ketinggalam model. Padahal dengan bahan baku rotan yang melimpah dan potensi pasar yang cukup besar di Eropa dan Amerika Serikat merupakan peluang yang sangat besar meraup keberhasilan.
Pada 2011,kata dia, nilai ekspor sebasar US$2 miliar sementara potensi pasar lokal tak kalah hebat mencapai US$10 miliar. Sejatinya, potensi pasar lokal ini juga harus digarap maksmilal.”Tentunya dengan hasil produk yang inovatif dan berdaya saing. Makanya, dibutuhkan keterlibatan para disainer ini dalam mengembangkannya.”
Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, 5 tahun ini nilai ekspor furnitur kayu dan rotan terus melambung. Pada 2012 nilai ekspornya mencapai US$ 1,4 miliar, pada tahun 2013 mengalami peningkatan menjadi US$ 1,8 miliar.
Sedangkan sepanjang 2014 nilai ekspor furnitur kayu dan rotan nasional mencapai kurang lebih USD 2,2 miliar. Tren positif ini mendorong optimisme tercapainya nilai ekspor furnitur kayu dan rotan olahan dalam lima tahun ke depan mencapai US$ 5 miliar.
Atas dasar ini, makanya, kata Sobur,AMKRI berharap ketersediaan fasilitas penunjang untuk pengembangan disain (disain center) sekaligus perlindungan disain (Hak Kekayaan Inteletual/HAKI) di basis industri sebagai syarat kemandirian dalam mendisain. “Kita juga mengajak para disainer dan instansi terkait dalam pengembangannya.” (fitri)
