JAKARTA (Pos Sore) – Tidak dipungkiri antibiotik memiliki peran penting pada dunia kedokteran karena telah menyembuhkan banyak kasus infeksi.
Salah satu contoh terapi penggunaan antibiotik adalah pada penderita penyakit Pneumonia atau radang paru akut yang sering dijumpai di masyarakat Indonesia.
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. M. Arifin Nawas, SpP(K), MARS menjelaskan antibiotik pada infeksi saluran pernapasan atau radang paru akut merupakan dasar terapi. Penggunaannya bervariasi tergantung umur, tipe, adanya penyakit penyerta, dan beratnya penyakit.
“Indikasi pemberian antibiotika pada penyakit saluran pernapasan tergantung dari gejala-gejala infeksi, antara lain demam, perubahan warna dahak, bisanya juga diikuti dengan kenaikan kadar sel darah putih dalam darah,” kata pulmonologist ini dalam acara Pfizer Press Circle (PPC) dengan topik ‘Pentingnya Kesadaran Mengenai Resistensi dan Kepatuhan Penggunaan Antibiotik yang Tepat’, di Jakarta, Kamis (21/1).
Dikatakan, untuk mengetahui kuman penyebab infeksi, biasanya dokter melakukan prosedur pemeriksaan kultur, uji sensitivitas serta memberikan terapi antibiotik empirik.
Yaitu antibiotik yang digunakan pada kasus infeksi yang belum diketahui kumannya. Pilihan antibiotik diberikan berdasarkan data epidemiologik kuman yang ada.
“Jika telah keluar hasil resistensi atau kultur, dokter harus memberikan antibiotika yang tepat dengan hasil diagnosis tersebut,” urainya.
Ia menambahkan, kondisi pasien rawat jalan atau rawat inap sebaiknya menggunakan prosedur terapi antibiotika empirik. Pemilihan antibiotik didasarkan pada pengalaman klinis dengan menggunakan antibiotik tertentu yang diduga akan efektif pada kondisi tersebut.
Namun, ia menegaskan, perlu diingat penggunaan obat antibiotik harus di bawah pengawasan dokter dan mengikuti anjuran yang tepat karena pengobatan dengan obat antibiotik harus sesuai kondisi resistensi antimikroba masing-masing pasien.
“Untuk itu, pemberian dosis yang tepat dan perlunya kepatuhan penggunaan antibiotik pada terapi pengobatan penyakit radang paru, merupakan faktor penting untuk diperhatikan agar proses penyembuhan penyakit ini tidak menyebabkan resistensi,” tambah dr. M. Arifin Nawas, SpP(K). (tety)


