5.6 C
New York
26/04/2026
Ekonomi

Investasi Mamin Hadapi MEA Makin Terbuka Lebar

JAKARTA (Pos Sore) – Ketua Gabungan Industri Makanan Dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman mengungkapkan, peluang investasi di indusri makanan dan minuman (mamin) di tengah diberlakukannya Pasar Bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sangat besar. Bahkan, Jepang dan Korea, tengah mengincar industri mamin yang mau dijual atau membangun pabrik baru di dalam negeri.

“Hanya saja, realisasinya masih rendah.Hingga September 2015 realisasinya baru Rp32 triliun sementara pada 2014,realisasinya mencapai Rp53 triliun. Mengapa ini terjadi? Ini yang harus dibangun bersama antara pemerintah dan dunia usaha agar realisasinya bisa lebih besar.”

Kondisi ini juga diperkuat dari data Badan Koordinasi  Penanaman Modal Dalam Negeri (BKPM) , kataya, memasuki MEA, minat investasi di industri dimaksud, mencapai 236 persen dalam bentuk pertambahan izin dengan nilai investasi mencapai Rp165 triliun sepanjang 2015.

“Hanya saja, realisasinya masih rendah.Hingga September 2015 realisasinya baru Rp32 triliun sementara pada 2014,realisasinya mencapai Rp53 triliun. Mengapa ini terjadi? Ini yang harus dibangun bersama antara pemerintah dan dunia usaha agar realisasinya bisa lebih besar,” ungkapnya, di sela pemaparan Tantangan dan Harapan, Industri Mamin, di Kementerian Perindustrian,Jumat,(8/1).

Bahkan, katanya, beberapa hari belakagan, sudah ada perusahaan dari Jepang yang sangat berminat membangun atau membeli pabrik khususnya untuk industri pengolahan makanan, seperti nugget, sosis dan tepung terigu. “Ini bukti bukti bahwa peluang investasinya sangat besar.”

Jika peluang ini benar-benar dimanfaatkan dengan baik, ia optimis pertumbuhan industri mamin pada 2016 akan mencapai rata-rata 7-8 persen. Tentunya, bukan pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan harga seperti 2015, akan tetapi pertumbuhan yang dilandasi peningkatan produksi.Karena, faktor biaya produksi seperti gas, bahan bakar minyak, listrik juga mengalami penurunan tarif.

Sayangnya, kata Adhi, idustri mamin masih terkendala oleh kesulitan bahan baku akibat stabilisasi harga yang kurang mendukung serta kebijakan impor bahan baku seperti garam, daging dan sebagainya bisa dibuka dengan regulasi yang mendukung dan memudahkan dunia industri berproduksi dengan daya saing tinggi. Termasuk, ketersediaan bahan baku di dalam negeri seperti cabe, bawang dengan harga yang tidak bergejolak seperti sekarang ini.

“Apalagi pasar Asean sudah sangat terbuka. Kita harus berdaya saing, bahan baku harus lebih murah. Kalau di Singapura harga bawang hanya Rp10 ribu per kg, kita bisa mencapai Rp45 ribu. Begitu juga cabe harganya tidak stabil, bisa mencapai Rp100 ribu per kg. Ini yang harus dipikirikan bersama antara pemerintah dunia usaha bersama petani agar harganya stabil.”

Direktur Industri Makanan,Hasil Laut Dan Perikanan, Ditjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Abdul Rohim menambahkan, sumbangan industri mamin terhadap industri non migas cukup tinggi mencapai 31 persen. “Memang kendalanya masih terdapat di bahan baku. Bagaimana kita bisa berdaya saing baik di Asean jika bahan bakunya saja masih tinggi. Seperti bawang, di Brebes di tingkat petani sudag mencapai Rp22 ribu, di Pasar Induk bisa mencapai Rp45 ribu. Ini yang harus kita pikirkan teknologinya  untuk menyimpan bahan baku dalam jangka panjang dengan harga bersaing dan stabil.” (fitri)

 

Leave a Comment