JAKARTA (Pos Sore) – Skoliosis atau kelainan bentuk tulang belakang yang melengkung ke samping, menurut spesialis ortopedi dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. S. Dohar A.L. Tobing SpOT, K-Spine, belum diketahui pasti apa penyebabnya (idiofatik).
Skoliosis idiofatik ini umumnya terjadi pada masa remaja. Tidak diketahui juga mengapa di masa usia pubertas kelainan tulang belakang ini terjadi. Itu sebabnya, tidak ada data pasti berapa prevalensi kejadian skoliosis ini.
Keluhan umum yang biasa dialami seseorang yang mengalami skoliosis yakni keluhan nyeri pinggang, nyeri leher, nyeri pundak, atau nyeri dada tergantung posisi lengkungan tulang belakang.
“Umumnya skoliosis terlihat seperti normal. Namun perbedaan bisa dilihat ketika penderita membungkuk. Akan terlihat jelas pundak tidak simetris,” urainya dalam temu media, di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Rabu (2/12).
Ia pun menganjurkan masyarakat untuk melakukan deteksi dini dengan cara seperti itu. Karena ternyata, ‘penderita’ skoliosis ini tidak menyadari jika tulang belakangnya terjadi kelainan.
“Orang lainlah yang biasanya mengetahui kelainan itu. Jika misalnya saat berenang pundaknya tidak terlihat simetris,” paparnya.
Spesialis orthopedi umumnya akan melakukan pemeriksaan radiologis dan mengukur derajat lengkungnya. Jika skoliosis ditemukan sedari awal, maka dapat ditangani dengan cara non bedah.
“Kalau sudah ketahuan sejak dini, bisa ditangani dengan latihan gerak punggung atau kalau perlu menggunakan brace (baju penyangga). Tapi kalau lengkungan mencapai 45 derajat maka diperlukan tindakan pembedahan,” ujarnya.
Menurutn dia, pembedahan dilakukan untuk memperbaiki lengkungan dan pemasangan implant batang logam serta sekrup untuk menyangga. Meski skolios tidak dapat hilang, namun pembedahan membantu penderita untuk memiliki kualitas hidup yang baik.
“Pasien tidak akan merasakan sakit kembali. Karena kalau tidak segera dikoreksi, risiko lengkungan semakin buruk dan akan berakibat fungsi paru-paru atau nyeri punggung menjadi kronis dan akan mengganggu aktivitas sehari-hari pasien,” katanya. (tety)


