JAKARTA (Pos Sore) — Jumlah penduduk Indonesia terbesar keempat di dunia. Ini menjadi potensi besar bagi para produsen otomotif dunia. Karenanya, potensi pasar komponen otomotif ini harus dimanfaatkan oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
“Baru sebagian kecil yang dapat dipenuhi dari produk dalam negeri yang dihasilkan oleh sekitar 12.468 UKM Indonesia. Jumlahnya masih terbatas, padahal potensi pasar komponen otomotif terbilang besar,” kata Deputi Bidang Produksi Kementerian Koperasi dan UKM, I Wayan Dipta, dalam pertemuan Jumatan dengan Forum Wartawan Koperasi (Forwakop), di Jakarta, Jumat (20/11).
Menurutnya, penyebab mengapa sampai saat ini belum banyak UKM yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, karena masih kurangnya penguasaan teknologi, modal, dan pasar.
Karena itu, pihaknya akan terus mendorong UKM Indonesia untuk siap bermitra dan meningkatkan daya saing produknya dengan produk komponen otomotif impor.
Di antaranya, dengan berusaha melakukan sinergitas program antar K/L sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk dari UKM-UKM yang bergerak di bidang komponen otomotif. Selain itu, mencoba membangun jaringan dengan luar negeri yang dapat membantu dalam mempercepat transfer teknologi dan pemasaran produknya.
‎Beberapa langkah kerjasama juga sudah dilakukan Kemenkop UKM dengan pemerintah Jepang dan Korea berupa kegiatan peningkatan SDM operator mesin, ToT, business matching, dan temu konsultasi.
“Pada tahun 2014-2015 ada 50 UKM Indonesia berangkat ke Jepang dan difasilitasi oleh Jepang. Hasil dari pertemuan itu sebanyak tujuh UKM Indonesia telah melakukan perjanjian kerjasama dengan UKM Jepang. Dan, ada sebanyak 15 UKM Indonesia yang berprospek untuk melakukan kemitraan,” ungkapnya. Wayan Dipta.
Selain itu, kata Wayan Dipta, sudah ada business matching antara pengusaha Ehime-Jepang sebanyak lima pengusaha dengan UKM Indonesia yang dilaksanakan di Jakarta dan Surabaya pada tahun 2015 bertemu dengan sekitar 53 UKM Indonesia. Hasil dari pertemuan ini sebanyak enam UKM Indonesia mempunyai prospek untuk melakukan kemitraan.
Tak hanya dengan Jepang, kerjasama dengan Korea pun dilakukan. Kerjasama dengan pemerintah Korea yang difasilitasi KOTRA telah dua kali melakukan peningkatan teknologi operator mesin pada 2014 dan 2015 sebanyak 90 orang dan pelatihan ToT sebanyak 40 orang.
“Kami juga telah melaksanakan temu konsultasi antara UKM komponen otomotif dengan Bank Mandiri untuk mendukung permodalan. Dalam hal teknologi untuk peningkatan produktifitas menghadirkan Direktur Toyota Astra Motor, serta dari Askrindo selaku lembaga penjaminan,” jelas Wayan Dipta.
Pihaknya juga mengajak Kementerian Riset, Teknologi, dan Dikti untuk memanfaatkan inovasi dan ahli teknologi yang dihasilkan perguruan tinggi dan lembaga riset.
Pada 2016 UKM komponen otomotif akan terus dikembangkan. Yang diharapkan nantinya produk komponen otomotif UKM Indonesia sudah dapat bersaing dengan produksi impor, baik kualitas dan kuantitas.
“Ini akan memberikan dampak terhadap berkurangnya pengangguran, menurunkan angka kemiskinan, serta menambah devisa negara,” tandasnya. (tety)

