17.7 C
New York
05/05/2026
Aktual

Penjaminan Solusi Atasi Permasalahan Perbankan UMKM

buku

JAKARTA (Pos Sore) – Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam struktur perekonomian Indonesia. Sayangnya, akses pendanaaan UMKM masih rendah, atau belum memiliki akses yang baik.

“Salah satu penyebabnya, terjadinya informasi asimetris antara perbankan dengan UMKM. Calon kreditur tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang calon debitur, sedang calon debitur berupaya memoles data untuk meningkatkan daya tariknya terhadap calon kreditur,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) Diding S. Anwar, saat acara bedah buku berjudul ‘Industri Penjaminan: Menatap Indonesia Gemilang’, di Jakarta, Senin (9/11).

Informasi yang salah tersebut menyebabkan seleksi yang keliru serta moral hazard. Akibatnya banyak kreditur yang menerapkan penjatahan kredit. UMKM yang tidak memiliki agunan menjadi semakin sulit mengakses pinjaman.

Kondisi inilah yang melatarbelakangi Diding S. Anwar yang juga Dirut Perum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) menyusun buku itu, bekerjasama dengan Kepala Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia Toto Pranoto. Buku yang mengupas tuntas industri penjaminan di Indonesia yang selama ini hanya dikenal oleh kalangan tertentu. Dengan begitu, akan mampu memberi gambaran tentang peranannya dalam perekonomian nasional.

Buku ini sebagai salah satu upaya memberikan kesadaran terus menerus kepada semua pihak tentang pentingnya industri penjaminan dalam pengembangan UMKM sebagai pelaku ekonomi mayoritas. Ke depan, diharapkan dapat mendorong industri penjaminan Indonesia yang sehat untuk masa depan yang gemilang.

Berdasarkan data 2013, jumlah UMKM mencapai 99,9 persen dari total pelaku usaha nasional, penyerapan tenaga kerja 96,9 persen, kontribusi pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) 60,34 persen, dan kontribusi pada investasi mencapai 63,4 persen.

Sementara, data Bank Indonesia menunjukkan, sampai 31 Desember 2014 posisi outstanding kredit UMKM hanya Rp 707 triliun atau 18,7 persen dari total outstanding kredit sebesar Rp 3.779 triliun.

Menurut Diding, hadirnya penjaminan menjadi solusi mengatasi permasalahan penjaminan bagi UMKM ini. Penjaminan bisa menjadi jembatan bagi mereka yang usahanya feasible tetapi belum layak memperoleh pendanaan karena kurang memenuhi syarat kredit.

Industri penjaminan itu sendiri terus mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Total aset industri terus tumbuh dengan CAGR 23,2 persen yaitu dari Rp 3,1 triliun pada 2010 menjadi Rp 8,8 triliun pada Maret 2014.

Lihat saja posisi Perum Jamkrindo dalam industri penjaminan nasional sangat dominan yaitu total aset Rp 3,39 triliun atau 96,06 persen dari aset industri.

Data 2014 juga menunjukkan Perum Jamkrindo mendominasi kinerja penjaminan nasional nasional dengan nilai outstanding penjaminan usaha produktif sebesar Rp 38,04 triliun dan total outstanding penjaminan Rp 94,64 triliun. (tety)

Tanah Abang-20151109-00970

Leave a Comment