JAKARTA(Pos Sore)-Reshuffle kabinet kerja jilid II akan dilakukan oleh Jokowi-JK dalam waktu dekat ini. Karenanya, Presiden Jokowi harus benar-benar berani keluar dari tekanan partai politik. Jika tidak apa yang terjadi selama 1 tahun terakhir ini akan kembali berulang.
Selama 1 tahun pemerintahan Jokowi – JK semua sektor kehidupan mengalami penurunan yang cukup drastis. Sektor ekonomi, politik, rendahnya penyerapan anggaran, meningkatnya jumlah kemiskinan dan pengangguran dan sebagainya bisa jadi karena kuatnya tekanan partai politik yang dialami Presiden.
“Jadi, Presiden Jokowi harus berani keluar dari tekanan parpol. Apalagi koordinasi di internal kabinet belum berjalan bahkan terjadi kegaduhan politik,” tegas Wakil Ketuia Komisi II DPR RI Ahmad Reza Patria (Gerindra) dalam dialektika demokrasi ‘Rasehuffle Kabinet untuk Siapa?’ bersama pengamat politik UI Agus Suprio di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Kamis (5/11).
Ia lantas menyebut ‘kegaduhan politik’ antara Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli dengan Wapres Jusuf Kalla, PDIP dengan Meneg BUMN Rini Soemarno, dan banyak lagi.
Namun, jika dengan reshuffle jilid II ini tidak juga ada perbaikan khususnya dalam perekonomian dan kesejahteraan rakyat kata Reza Patria, berarti kesalahan ada pada Presiden RI, yang mungkin tidak mampu mengelola pemerintahan ini dengan benar.
Hal itu sudah terlihat sejak memerintah di mana janji-janjinya tidak terpenuhi. “Misalnya koalisi tanpa syarat dan tidak bagi-bagi kekuasaan, kabinet yang profesional, kabinet yang ramping dan pro rakyat. Padahal, waktunya cukup untuk menyusun zaken kabinet,” ujarnya.
Termasuk diplomasi luar negeri, yang selama ini sudah terjalin kerjasama yang baik dengan Jepang, tapi dalam proyek kereta api (KA) cepat seperti Jakarta – Bandung, tiba-tiba memilih China, tanpa mempertimbangkan urgensinya. Padahal alokasi anggarannya meski bisnis to bisnis (B to B) tetap akan mengambil dari PMN ke tiga BUMN yang nilainya Rp 39 triliun.
“Jadi, diplomasi macam apa ini? Termasuk memutuskan pulang dari Amerika Serikat dengan alasan kabut asap, ternyata Jokowi juga akan disambut demo dengan celana pendek di California akibat tidak mampu menangani asap itu,” tambahnya.
Agus Suprio mengakui jika terjadi miskoordinasi di internal kabinet Jokowi selama ini, kinerjanya kurang baik dan sebagainya. Sebelumnya Menkopolhukam yang menyebut rakyat tidak jelas, Seskab Andi Widjojanto, yang sering memberi informasi yang salah pada Jokowi sudah diganti.
“Saat ini pergeseran itu belum selesai. Seperti halnya Rizal Ramli dengan Wapres, Meneg ESDM, Dirut Pelindo II RJ Lino, dan lainnya,” katanya.(btp)
