5.7 C
New York
26/04/2026
Ekonomi

PUPUK Putus Mata Rantai Distribusi Panjang Rotan

JAKARTA (Pos Sore) –Sekretaris Jenderal  Perkumpulan Untuk Peningkatan  Usaha Kecil (PUPUK), Early Rahmawati mengungkapkan, ketersediaan bahan baku rotan yang berlimpah hampir mencapai  85 persen, belum dinikmati  hasilnya oleh petani dan pedagang pengepul. Mata rantai distribusi yang panjang menjadi pemicu sehingga harga jual tinggi tetapi dihargai murah di tingkat petani. Untuk itu salah satu peran PUPUK adalah mejembatani  antara  petani dan eksportir mendapatkan bahan baku rotan dengan harga pantas.

“Kita hadir untuk memotong mata rantai yang panjang selama ini terjadi. Kita langsung mempertemukan antara petani dan produsennya langsung.Karena probelam yang selama ini di penyediaan bahan baku rotan adalah mata rantai disribusi yang panjang sehingga petani tak menikmati hasil usahanya sementara eksportir atau produsen tetap membeli dengan harga mahal,” ungkapnya di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Jumat 23/10.

Makanya, dengan adanya PUPUK, katanya, dominasi pemain di bahan baku rotan di tengah hrus diputus untuk memberikan rangsangan kepada petani meningkatkan kesejehteraannya dari hasil rotan dan menggenjot peran eksportir dan produsen mendapatkan bahan baku yang bagus untuk produksi.

“Kita hadir untuk memotong mata rantai yang panjang selama ini terjadi. Kita langsung mempertemukan antara petani dan produsennya langsung.Karena probelam yang selama ini di penyediaan bahan baku rotan adalah mata rantai disribusi yang panjang sehingga petani tak menikmati hasil usahanya sementara eksportir atau produsen tetap membeli dengan harga mahal.”

Sementara itu, Manager Porgmam  PUPUK, listoman Tanjung, menambahkan, kendati bahan baku rotan yang ada di dalam negeri melimpah, akan tetapi belum banyak masyarakat yang menggunakan produk rotan di rumah ataupun di perkantoran.

“Image yng muncul selama ini, rotan masih dianggap furnitur yang kuni, banyak rayap, padahal dengan teknologi yang ada saat ini semua image itu bisa diredam.bahkan furnitur berbahan baku rotan malahan lebih berkulaitas tingggi dibanding kayu atau bahan sintetis lainnya.”

Untuk itu, kata dia, PUPUK juga berperan mengedukasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mau beralih menggunakan rotan sebagai furnitur kantor dan rumah tangga. “Kita terus mempromosikan agar masyarakat luas, sekolah dan kantor-kantor mulai menggunakan rotan sebagai furnitur mereka. Ini penting dalam menggenjot penggunaan produksi dalam negeri.”

Di sisi lain, katanya, PUPUK juga gencar memberikan pelatihan dan pendidikan bagaimana mengelelola rotan sebagai bahan baku yang ramah lingkungan dengan cara lebih giat menanam rotan ramah lingkungan. Karena, keterbatasan lahan hutan dan kebakaran yang santer terjadi saat ini akan semakin memperkecil ruang dalam menghasilkan rotan. Sebagai gambaran, saat ini baru sekitar 10 persen produksi rotan dihasilkan dari rotan ramah lingkungan. Artinya, prospek pengembangan bahan baku rotan ramah lingkungan sangat besar di masa datang.

“Ke depan lahan makin berkurang karena lebih banyak dibuka untuk menanam kelapa sawit. Padahal, harga jual rotan dibanding sawit jauh lebih baik. Harga rotan sebesar Rp1000/ per kg jauh lebih baik dari harga sawit seharpa Rp1000 per kg yang di pasar inetrnasional juga berfluktuasi.”

Dari sisi penyerapan tenaga kerja , kata dia, dari hasil usaha rotan juga sangat besar. Betapa tidak, dari 4 ribu kontainer rotan yang diangkut melibatkan setidaknya sekitar 18 tenaga kerja. Sementara pemerintah dan dunia usaha menargetkan pertumbuhan ekspor meubel dan kerajinan rotan sekitar US$5 miliar per tahun, tentunya akan  mampu menyerap kebutuhan rotan antara 30 ribu ton per tahun.(fitri)

Leave a Comment