05/05/2026
Aktual

Komite Mata Nasional Bertekad Turunkan Jumlah Penderita Katarak

JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Kesehatan membentuk Komite Mata Nasional menyusul masih tingginya angka kebutaan di Indonesia. Ini bukan Komite Nasional seperti Komnas HAM, Komnas Perlindungan Anak, atau lainnya. Andy F Noya ditunjuk sebagai ketua komite tersebut.

Komite Mata Nasional ini memiliki peran dan fungsi untuk mendukung Kementerian Kesehatan dalam upaya menurunkan tingkat kebutaan dan gangguan penglihatan lainnya. Dan, operasi katarak menjadi program prioritas dalam rencana kerja.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, dibentuknya Komite ini karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menangani masalah kebutaan. Dengan dibentuknya Komite ini, berbagai kegiatan bakti sosial katarak akan dikoordinasikan sehingga dapat diketahui berapa masyarakat Indonesia yang sudah bebas katarak. Selain itu, untuk memudahkan pemetaan wilayah prioritas penanganan masalah gangguan penglihatan dan kebutaan.

“Kita tidak bisa sampai grassroot karena kita bekerja secara profesional. Maka adanya komite ini bisa mengakomdir, juga jadi penghubung dengan swasta,” kata menkes pada Temu Media dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia 2015, di Jakarta, Selasa (6/10).

Setia Budi-20151006-00673

Andy mengaku senang hati membantu Menteri Kesehatan Republik Indonesia menangani Komite Mata Nasional. Ia pun bertekad hendak menurunkan jumlah orang dengan katarak di Indonesia.

Setidaknya ada tiga agenda besar yang menjadi tujuan Komite Mata Nasional. Pertama, pendataan jumlah penderita katarak di Indonesia. Kedua, pengumpulan dana dan CSR untuk realisasi operasi katarak gratis. Ketiga, pelatihan para tenaga medis di daerah agar bisa lebih terampil dalam menangani mata.

Memang, persoalan mata tidak menimbulkan kematian seperti sakit jantung atau kanker, namun hal ini jangan dianggap tidak penting. Banyak sekali akibat yang ditimbulkan akibat kebutaan, terutama terkait produktivitas.

“Kalau gangguan penglihatan dan kebutaan ini dibiarkan begitu saja, maka yang terjadi adalah, produktivitas akan menurun dan ongkosnya menjadi tinggi sekali, berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan,” ujar pembawa program acara bernama dirinya itu.

Menurutnya, kebutaan seharusnya menjadi salah satu perhatian utama di Indonesia. Kita agak abai terhadap masalah kebutaan di Indonesia, padahal badai ini sedang menerjang negeri kita. Inilah saatnya berbagai pihak concern pada masyarakat kita yang sulit mendapatkan akses kesehatan.

“Karena saya sendiri mengalami apa yang terjadi di daerah tertinggal, termiskin, dan terjauh, akses untuk mendapat pengobatan katarak sulit diperoleh,” kata Andy dalam kesempatan yang sama.

Ia menandaskan operasi katarak gratis yang menjadi program CSR berbagai pihak tidak akan mematikan penghasilan dokter mata dalam suatu wilayah. Karena operasi katarak ini ditujukan bagi mereka yang miskin, yang tidak berkesempatan menikmati sarana kesehatan.

“Kalau tidak ada operasi katarak gratis sekalipun, masyarakat ini juga tidak akan pergi ke dokter mata untuk melakukan operasi karena tidak memiliki uang, terlebih untuk ke dokter mata harus menempuh jarak yang cukup jauh,” tandasnya. (tety)

Leave a Comment