JAKARTA (Pos Sore) – Kementerian Kesehatan menargetkan pada 2019 terjadi penurungan angka gangguan penglihatan dan kebutaan sebesar 25% dari total kasus. Pada 2020, pemerintah memiliki visi setiap penduduk Indonesia memperoleh kesempatan atau hak untuk melihat secara optimal.
“Saat ini sebesar 52% kebutaan disebabkan oleh katarak. Bisa karena faktor usia atau penyakit diabetes. Usia tua umum terjadi katarak, sementara penyakit diabetes menyebabkan lensa mata keruh. Dulunya jernih lalu keruh karena mengalami gangguan metabolisme,” kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, pada Temu Media dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia 2015, di Jakarta, Selasa (6/10).
Meski belum memiliki data akurat berapa total masyarakat Indonesia mengalami gangguan penglihatan dan kebutaan, namun Kementerian Kesehatan mencatat masalah penglihatan terbesar terjadi di Jawa Barat dengan angka 2,2%, Sulawesi Selatan 2,4% dam Nusa Tenggara Timur 4%.
“Rata-rata 50% karena katarak, malah NTB 70% gangguan penglihatan karena katarak,” sebutnya.
Kendati masalah kebutaan ini bukan penyakit menular dan tidak menyebabkan kematian, namun membuat produktivitas seseorang jadi menurun. Menyadari hal tersebut, pemerintah harus siap-siap menangani masalah ini. Terlebih usia harapan hidup di Indonesia meningkat.
Menkes menjelaskan, setiap tahun ada 200.000 kasus katarak baru, namun hanya 50.000 – 60.000 orang yang melakukan operasi.
Katarak sendiri adalah kondisi ditandai dengan berkabutnya lensa mata yang progresif. Hal ini terjadi secara alamiah pada orang di usia tua tapi bisa juga terjadi di usia yang lebih muda karena ada kondisi yang memengaruhi metabolisme seperti diabetes.
Salah satu cara menangani masalah katarak dengan melakukan operasi katarak dengan memasangkan lensa di dalam mata. Lensa ini memfokuskan sinar agar jatuh pada mata lalu berubah jadi energi listrik yang mengantarkan ke syaraf mata. Syaraf matalah yang menggerakkan otak dalam melihat sesuatu, seperti warna dan lain-lainnya.
“Dengan kemajuan teknologi lensa mata bisa kita ambil kita ganti dengan yang baru. Ketika lensa diambil ukurannya itu 10 dioptri, jadi jaman dulu orang yang habis diambil lensanya harus ganti kacamata plus 10,” ungkapnya. (tety)

