JAKARTA (Pos Sore) – Musim kemarau yang panjang lantas bukan berarti tak bisa bercocok tanam padi. Masih ada lahan alternatif lain yang bisa dimanfaatkan untuk menanam padi. Lahan yang dimaksud adalah lahan rawa.
Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertanian berhasil ‘menyulap’ lahan rawa sebagai lumbung pangan di musim kemarau. Tentunya, setelah mendapatkan intervensi teknologi inovasi yang dihasilkan badan yang dikepalai Dr. Muhammad Syakir itu.
Kepala Balitbang Pertanian Muhammad Syakir, mengatakan, luas lahan sawah rawa lebak secara nasional saat ini sekitar 500 ribu hektar. Saat El-Nino luas tanam bertambah sekira 250 ribu hektar.
“Peluang peningkatan luas tanam di lahan rawa pada saat musim kemarau adalah pada lahan rawa lebak yang tersebar, antara lain di Provinsi Sumatera Selatan, Riau, Lampung dan Kalimantan Selatan,” sebutnya, di Jakarta, Rabu (23/9).
Saat iklim normal, potensi lahan rawa di Sumatera Selatan mencapai 200,4 ribu hektar, Riau seluas 131,8 ribu hektar, Lampung sekitar 79 ribu hektar, dan Kalimantan Selatan sekitar 153 ribu hektar. Total luas lahan rawa yang dapat dimanfaatkan pada kondisi iklim normal adalah 564,2 ribu hektar.
“Pada saat musim kemarau, potensi lahan rawa mengalami peningkatan dari kondisi normal yaitu Sumatera Selatan 368,7 ribu hektar, Riau 113,6 ribu hektar, Lampung 137,9 ribu hektar, dan Kalimantan Selatan 181,6 ribu hektar,” ungkapnya.
Syakir tidak menampik lahan rawa lebak yaitu kesuburan dan sifat kimia tanah, tinggi dan lama genangan menjadi kendala utama. Namun, pada kondisi musim kemarau lama dan tinggi genangan pada lahan tersebut semakin turun, lahan potensial untuk pengembangan pertanian tanaman pangan justeru semakin luas.
“Saat ini Kementerain Pertanian sangat siap untuk mengembangkan lahan rawa sebagai lumbung pangan nasional masa depan melalui dukungan teknologi inovasi yang telah dihasilkan dana dikuasai dengan baik,” tegasnya.
Adapun teknologi yang dimaksud yakni pemupukan berimbang menggunakan perangkat PUTR. Selain itu, teknologi pupuk hayati biotara dan biosure, yang sudah mendapatkan lisensi dari PT Pupuk Kaltim.
Teknologi lainnya, yaitu tabat limpas untuk konservasi ari. Teknologi ini dikembangkan dari kearifan lokal masyarakat Bugis. Ada juga teknologi pengenalian tikud dengan menggunakan ratel dan lain-lain.
“Benih padi yang digunakan juga benih unggul padi lahan rawa tahan salin, kemasanan tanah, dan tanah OPT yaitu Inpara, Martapura, Margasari, Banyuasin, dan banyak lagi,” paparnya.
Hasil hitung-hitungan Balitbang Pertanian, katanya, potensi kontribusi lahan rawa terhadap produksi beras nasional sekitar 14% atau 6 juta – 8 juta ton dengan tingkat produktivitas 4 ton/ha GKG. (tety)

