JAKARTA (Pos Sore) — Program Jaminan Kesehatan Nasional akan semakin tinggi beban biayanya dan menggerus anggaran BPJS apabila tidak diimbangi dengan upaya kesehatan masyarakat. Utamanya program promotif dan preventif di puskesmas yang efektif.
“Tambahan anggaran kesehatan pada 2016 menjadi momentum terbaik untuk penguatan sinergi usaha kesehatan masyarakat dan JKN,” kata Ketua Umum Ikatan Konsultan Kesehatan Indonesia (Ikkesindo), DR. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, di Jakarta, Selasa (20/9).
Ia mengemukakan hal itu di sela Seminar Nasional Penguatan Sinergi UKM dan JKN untuk Mencapai Indonesia Sehat yang diadakan Indonesia HealthCare Forum dan Ikkesindo, yang didukung IDS Medical.
Belanja kesehatan pada 2016 mencapai Rp106 triliun atau 5% sesuai amanat UU Kesehatan. Anggaran sebesar ini untuk pertama kalinya terealisasi melalui RAPBN.
Menurut Supriyantoro, belanja kesehatan sebesar itu memberi kesempatan yang luas bagi pemerintah untuk menyelenggarakan pembangunan kesehatan melalui upaya kesehatan masyarakat (ukm) yang lebih sistemik, lebih luas cakupannya, lebih baik kualitasnya, lebih mudah aksesnya, serta lebih merata distribusinya.
Sesjen Kementerian Kesehatan, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes usai membuka seminar itu, mengatakan, tidak mudah merancang program intervensi kesehatan masyarakat yang dapat dengan segera menekan angka kesakitan, baik akibat penyakit menular maupun tidak menular.
“Hampir semua program promotif dan preventif kesehatan masyarakat memerlukan waktu yang lama sebelum hasilnya bisa dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, dibutuhkan penguatan sinergi antara upaya kesehatan masyarakat dan JKN agar hasil kegiatan promotif dan preventif berbasis masyarakat dapat dengan efektif menekan pemanfaatan berlebihan program kuratif dan rehabilitatif berbasis individual yang diselenggarakan dalam program JKN.
“Masukan dari mitra serta pemangku kepentingan menjadi esensial agar program yang disusun lebih tepat guna dan sesuai dengan prioritas pembangunan kesehatan di daerah tersebut,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Bappenas, Dra. Nina Sardjunani, MA, mengatakan upaya promotif dan preventif tidak melulu tugasnya Kementerian Kesehatan. Perlu sinergi dengan multi sektor dan berbagai pihak.
“Yang terpenting upaya promotif dan preventif tidak hanya jangka pendek, tetapi juga harus menekankan gaya hidup sehat, aktivitas fisik harus dikedepankan agar terhindar dari penyakit tidak menular,” katanya. (tety)
