JAKARTA (Pos Sore) — Deputi Menko PMK Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Tb Rachmat Sentika, mengatakan peranan Ibu sebagai bagian dari masyarakat sangat penting dalam membuat keputusan terhadap pemilihan produk yang berhubungan dengan kesehatan keluarga.
Rachmat menambahkan, di lingkungan keluarga, sebagai pendidik anak diharapkan ibu mampu membekali anaknya dengan pengetahuan cara memilih jajanan yang aman, bermutu dan bergizi.
Menurutnya, ibu adalah penentu arah kesehatan keluarga. Di tangan ibulah suatu produk yang akan dikonsumsi atau digunakan oleh seluruh anggota keluarganya, termasuk obat dan makanan.
“Karena itu, seorang ibu harus menjadi konsumen cerdas agar dapat memilih produk yang aman, bermutu, dan bermanfaat bagi keluarganya,” tegasnya saat membuka Talkshow BPOM Sahabat Ibu (BSI) bertajuk ‘Amankah Obat dan Makanan yang Kita Konsumsi?’, di gedung Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (16/9).
Talkshow hasil kerjasama Kemenko PMK dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ini mengulas mengenai keamanan dalam memilih makanan dan obat di sekitar lingkungan. Dihadiri juga Staf Ahli Menko PMK, Pejabat Eselon 2 di lingkungan Kemenko PMK, Kepala Biro Hukum & Humas BPOM, Ketua Dharma Wanita Kemenko PMK, Perwakilan dari sponsor, serta seluruh pegawai Kemenko PMK.
Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat, Budi Djanu Purwanto, SH, MH yang menjadi narasumber talkshow tersebut, mengatakan, seorang ibu harus juga terlibat aktif dalam menyebarkan informasi terkait obat dan makanan kepada anggota keluarga, lingkungan di sekitarnya, serta kelompok masyarakat lainnya
“Banyak ibu yang berpikir makanan yang dikonsumsi sehat, baik, dan bersih, tetapi ternyata malah mengandung bahan berbahaya yang dapat merugikan kesehatan. Karenanya, ibu diharapkan dapat menjaga kesehatan keluarga,” katanya.
Pihaknya berharap, para ibu lebih cerdas dan teliti agar bisa merencanakan kehidupan dengan lebih baik di tengah kian maraknya peredaran obat dan makanan ilegal dan atau palsu di Indonesia, penyalahgunaan bahan berbahaya dalam makanan dan kosmetik, bahan kimia obat dalam obat tradisional. Masih banyak lagi kasus serupa yang selalu membuat masyarakat resah.
Badan POM menghimbau agar masyarakat harus membiasakan diri membaca label sebelum membeli obat dan makanan agar terhindar dari produk ilegal termasuk palsu dan mengandung bahan berbahaya. Sebagai masyarakat jangan mudah tergiur dengan harga murah dan selalu membeli obat di tempat penjualan yang resmi.
“Masyarakat juga harus lebih waspada, jangan sampai mengkonsumsi obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat, dan juga selalu memperhatikan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli atau mengkonsumsi satu produk,” katanya mengingatkan.
Ia juga mengingatkan masyarakat jangan langsung percaya jika melihat suatu produk tercantum label halal dari Majelis Ulama Indonesia tetapi tidak ada nomor izin edar dari BPOM. Dikatakan, LPP POM MUI tak akan mengeluarkan sertifikat/label halal sebelum mendapat izin edar dari BPOM.
“Kalau masyarakat menemukan produk seperti itu, berarti itu produk illegal,” tandasnya seraya juga mengingatkan untuk tidak menggunakan kantong plastik hitam untuk menyimpan makanan. Kantong plastik hitam katanya terbuat dari limbah plastik yang bersifat karsinogen.
Ayu Dyah Pasha yang menjadi tamu dalam BSI kali ini mengaku sejak bergaul dengan BPOM ia semakin pintar karena mendapatkan banyak pengetahuan tentang obat dan makanan yang aman, bermanfaat, dan bermutu.
“Sebagai seorang ibu, saya mendukung penuh kegiatan ini, apalagi ibu adalah penentu pilihan keluarga,” ujarnya.
Ayu yang tetap terlihat ayu itu berbagi pengalaman mengenai obat dan makanan khususnya kosmetika, yang sangat dekat dengan dunia keartisan. Menurutnya, para artis biasanya mudah tergiur akan tawaran kosmetika yang dapat membuat cantik dalam sekejab, padahal itu ternyata berbahaya.
Talkshow ditutup dengan demo cara mencari informasi tentang obat dan makanan di website Badan POM. Dilengkapi pula dengan pameran mini produk pangan hasil temuan pengawasan yang mengandung bahan berbahaya dan produk yang tidak memenuhi syarat, dan demo kosmetika kecantika.
Selain itu, diperagakan bagaimana cara menguji makanan yang diduga mengandung bahan berbahaya seperti boraks, formalin, dan pewarna tekstil (rhodamin B dan kuning metanil) dengan menggunakan Rapid Test Kit.
Sesuai dengan tema, dari kegiatan ini diharapkan peran aktif ibu dalam membentuk generasi yang sehat melalui pangan aman yang dikonsumsi oleh keluarga. Serta dapat terbentuk kader-kader keamanan obat dan makanan yang siap dibina. (tety)

