JAKARTA (Pos Sore) – Menteri Perindutrian Saleh Husin mengungkapkan perlu integrasi kebijakan investasi dari hulu hingga hilir dalam sektor migas dan pertokimia agar ketergantungan terhadap bahan baku impor bisa dikurangi. Termasuk juga persoalah harga gas untuk kalagan industri juga harus kompetitif jika dibandingkan negara tetangga.
“Ya,tadi memang ada pertemuan dengan kalangan pelaku usaha, mereka memberikan masukan tentang perlunya integrasi kebijakan investasi dari hulu hingga hilir. Demikian juga dengan persoalan energi,saya inginkan industri di tanha air mendapatkan harga energi yang kompetitif, ungkap Saleh, usai melantik dan mengukuhkan pejabat eselon I di Kementerian Perindustrian, Selasa (15/9).
Pejabat yang dukukuhkan antara lain Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM),Euis Saedah, Dirjen Industri Agro, Panggah Susanto, Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri,Imam Haryono, Dirjen Baisi Industri Manufaktur dan Staf Ahli Bidang Sumber Daya Industri dan Teknologi.
“Ya,tadi memang ada pertemuan dengan kalangan pelaku usaha, mereka memberikan masukan tentang perlunya integrasi kebijakan investasi dari hulu hingga hilir. Demikian juga dengan persoalan energi,saya inginkan industri di tanha air mendapatkan harga energi yang kompetitif.”
Saleh menyatakan, kebijakan investasi yang terintergrasi ini perlu diciptakan agar industri nasional bisa tumbuh di tengah kondisi ekonomi global melemah. “Kita harus bisa membuat industri hulu,antara dan hilir hingga turunananya.”
Akan tetapi,kata Husin, persoalan ini tidak bisa diputuskan sendiri namun harus dibicarakan dengan para stakeholder di instansi lain,seperti Kementerian ESDM, PT PGN,Pertamina maupun Kementerian BUMN. “Ya, harga gas masih tinggi,perlu duduk bersama agar supaya kesulitan ini bisa diatasi bersama.”
Sementara itu, Ketua Koordinator Gas Industri Kadin Indonesia,Achmad Wijaya mengungkapkan,investasi kilang minyak dan petrokimia harus satu paket dari hulu hingga hilir agar terintergasi baik.”Kami membicarakan ke menteri intergrasi hilir ke hulu, selama ini hulu dikuasai monopoli asing.”
Kareana, kata dia,hasilnya juga kebanyakan di jual. Sehingga industri antara (ditengah) tidak bisa masuk.sehingga di hilir banyak sekali bahan baku yang impor. “Ini sepakat kita sampaikan, tadi ada otomotif, ada petrokimia, usulan para industriawan bahwa kalau di perjalanan nanti, realisasi investasi misalkan minyak mau masuk kilang, harus dimasukkin juga petrokimia satu jalan.”
Jika tidak,katanya,ketika dibutuhkan, industri antaranya hilang. “Seperti saat ini misalkan saya di industri keramik, di tengah hilang, kalau ada glasur kita impor. Kemudian di keramik kita lihat bahan baku impor, petrokimia impor, makanya kita harus integrasi industri hulu dan hilir.”
Ia mengusulkan agar investasi kilang minyak dan petrokimia menjadi satu paket,jika tidak tentunya tidak akan mendapatkan benefit, ke industralisasinya.Skemanya gimana? Ada usulan, kalau industrinya benar-benar petrokimia hulu besar di atas US$ 100-200 miliar harus ada keikutsertaan pemerintah. Kedua, sumber daya alam,seperti alumina atau galian, Indonesia harus ikut campur. “Jangan hanya jual gali-jual gali saja. Itu yang ditekankan.”
Makanya, kata Achmad, pemerintan harus bekerja keras agar harga gas di hulu dan di hilir bisa kompetitif.”Kita berapa. Kalau di hulu mereka bisa berikan, nah artinya di hilir juga harusnya sama dong. Sumbernya sama di ESDM.
Terkait gas, kata dia, pemerintah sudah menggarisbawahi bahwa tidak termasuk dalam APBN.Jika nanti betul semua peraturan administarsi nya selesai, itu artinya gas sudah seperti badan layanan umum.Mau itu pertamina, PGN sudah sudah BLU, bukan income negara. “Kita sebagai pemakai gas di industri juga kita kejar, supaya birokrasinya selesailah.” (fitri)
