JAKARTA (Pos Sore) –Direktur Industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan, Dirjen Industri Agro,Kementerian Perindustrian,Pranata,MT mengungkapkan, di tengah anjloknya harga komoditi seperti sawit dan karet,di pasar dunia, saatnya pelaku industri melakukan replanting (menanam kembali) bahan baku yang lebih berkualitas untuk proses hilirisasi.
“Harga komoditi seperti karet, sawit saat ini anjlok. Dengan kondisi ini sangat tepat dilakukan perubahan kebijakan untuk produk hulu dengan melakukan replanting agar hasilnya lebih berkualitas,” ungkap Pranata di sela Pameran INAPALM ASIA 2015,di Kemayoran, Kamis (6/8).
Pameran mesin ini diharapkan bisa membangkitkan produksi terutama mesin untuk industri sawit di sektor hilir. Karena pameran INAPALM ASIA
Ini menyuguhkan mesin traktor dan alat angkut, alat berat untuk industri pertanian dan kelapa sawit, mesin dan teknologi pengolahan sawit,pestisida,pupuk dan bahan kimia untuk industri pertanian.
“Harga komoditi seperti karet, sawit saat ini anjlok. Dengan kondisi ini sangat tepat dilakukan perubahan kebijakan untuk produk hulu dengan melakukan replanting agar hasilnya lebih berkualitas.”
Pranata mengungkapkan, replanting ini sangat tepat dilakukan apalagi untuk mendukung produksi furnitur yang terus naik hingga 300 persen di masa datang.
Begitu pula dengan belum maksimalnya produksi sawit yang ada di lahan 10juta ha, saat ini baru mampu menghasilkan sekitar 3,5 juta ton per tahun.
Padahal, harapannya bisa naik hingga 4 juta ton hingga 5 juta ton per tahun.
Sebenarnya, Idnonesia merupakan produsen Crued Palm Oil (CPO) atau Cued Palm Kernel Oil (CPKO) terbesar di dunia dengan produksi mencapai 32 juta ton pada 2014.
“Dengan peningkatan produktifitas lahan kita proyeksikan bisa tumbuh rata-rata 6,8 juta ton per tahun.Dengan begitu pada 2020 produksi CPO bisa menembus 40 juta ton.
Jika mengacu pada UU Perindustrian melalui kebijakan hilirisasi,katanya,justru sangat membantu menggenjot peningkatan nilai tambah produk turunan berbahan CPO.
Terbukti nilai ekspor pada 2014 mencapai 6,1 juta ton justru sekitar 20 persen disumbangkan oleh minyak sawit dan turunannya dari total ekspor produk industri non migas.
Ke depan,katanya, akan ditingkatkan terus nilai tambahnya dalam bentuk minyak goreng.Bahkan, sepertiga diantaranya di ekspor dalam bentuk CPO,sepertiga lagi diolah menjadi produk hilir.
Pada 2015, katanya, produksi CPO akan lebih diarahkan untuk pengembangan bio diesel yang saat ini sekitar 6 juta ton,akan ditingkatkan menjadi 2 juta ton dalam mendukung program mandatori B12.
Pemerintah juga berupaya menggenjot pertumbuhan dengan kebijakan perpajakan melaluitax holiday maupun tax allowance untuk dapat merangsang investor di sektor hilir.
Kebijakan bea keluar CPO yang dilakukan selama ini,katanya, juga mampu menumbuhkan ekspor produk hilir dari 54 produk menjadi 154 produk pada 2014.Bahan kosmetik juga naik hingga 10 persen.Berarti ,tidak salah ada program hilirisasi.(fitri)
