JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Pertanian akan menghentikan sementara impor jagung sampai batas waktu yang tak ditetapkan dengan tujuan agar petani jagung di dalam negeri menikmati hasil pertaniannya. Selama ini impor jagung kita mencapai 3 juta ton per tahun berasal dari 14 negara.
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Prof. Muladno, mengatakan, selama ini pengusaha pakan ternak merupakan pembeli berkapasitas besar. Artinya dari dulu pasar sebetulnya sudah menganga. Iklim cocok, petani mampu, lahan ada, kenapa sampai saat ini nggak bisa produksi sendiri.
“Itu semangat yang disampaikan Presiden Jokowi. Kita punya gudang besar, lahan subur di sepanjang khatulistiwa tapi memang petaninya kecil-kecil. Kita dorong memenuhi sendiri 3 juta ton jagung,” kata Muladno, di Jakarta, Senin (3/8).
Selama ini Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) merupakan pengguna jagung impor terbesar. Jagung-jagung impor dipakai untuk bahan baku pakan ternak.
“Kami ingin petani jagung makmur tanam, dipanen, lalu dipakai sendiri. Transport impor jagung dari Argentina memang lebih murah dari kirim NTT dan dalam kapasitas besar. Pengiriman lokal itu sedikit-sedikit jadi mahal. Bagaimana kita kirim sebanyak dari Argentina tapi sumbernya dari NTT dan sekitarnya,” kata Muladno.
Ia mengatakan pasar jagung di dalam negeri rata-rata mencapai 8 juta ton per tahun. Bahkan Indonesia bisa mengekspor jagung ke beberapa negara seperti Filipina.
“Kita punya pasar 8 juta ton. Kita bisa ekspor dari Gorontalo ke Filipina, kok selama ini masih impor. Mestinya ngga perlu impor, entah gimana caranya. Sumbawa ternyata ekspor ke Filipina, karena lebih bersaing daripada dikirim ke Jawa,” jelasnya.
Berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) I 2015 Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung di dalam negeri mencapai 20,67 juta ton pipilan kering jagung. Angka ini tercatat meningkat sekitar 1,66 juta ton atau setara 8,72% dari produksi jagung 2014 yang hanya sebanyak 19,01 juta ton pipilan kering.
Penyebabnya, luas panen untuk jagung tahun 2015 bertambah diperkirakan hingga menjadi 160.480 hektar atau bertumbuh 4,18%. Sementara, produktivitas diperkirakan naik 2,16 kwintal per hektar atau naik 4,36%. (tety)
