JAKARTA (Pos Sore) — Produksi kopi Indonesia menempati urutan ketiga terbesar di dunia. Peringkat satu dikuasai Brasil yang produksi kopinya mencapai 3 juta ton per tahun, disusul Vietnam yang mencapai 1,32 juta ton per tahun.
“Meski Indonesia berada di peringkat ketiga, tapi produksinya tertinggal jauh cuma 0,60 juta ton. Produksi kopi kita hanya berkontribusi 8,9% dari total dunia.” kata Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Gamal Nasir, di Jakarta.
Padahal, dari sisi luas lahan perkebunan kopi, Indonesia jauh mengungguli kedua negara tersebut. Luas lahan perkebunan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektar. Sementara Brasil hanya 650 ribu hektar dan Vietnam hanya 420 ribu hektar.
Lantas mengapa Indonesia tertinggal? Menurut Gamal, permasalahannya terletak pada produktivitas rata-rata per hektar kebun kopi di masing-masing negara. Jika Indonesia hanya sekitar 740-760 kg per hektar, maka Brasil bisa 6-7 ton per hektar dan Vietnam sekitar 2-4 ton per hektar.
Saat ini pihaknya sedang berkonsentrasi membuat rangkaian kebijakan untuk meningkatkan produktivitas kopi nasional. Salah satunya, dengan mendorong penerapan Good Agricultur Practice (GAP) atau Praktik Perkebunan yang Baik sesuai standar internasional.
Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas rata-rata per hektar lahan perkebunan. “Tinggal pembenahan saja supaya kita bisa menerapkan GAP. Kalau bisa kita bisa jadi pemain utama kopi di dunia,” tegasnya.
Vietnam sendiri sudah menerapkan GAP (Good Agriculture Practice/Praktik Perkebunan yang Baik). Mulai dari benihnya dipilih yang unggul dan bersertifikat, pengairannya baik, pupuknya optimal dan sesuai standar GAP semua.
“Dengan penerapan GAP ini, Vietnam mampu menghasilkan kopi yang melimpah per hektar lahan dibandingkan dengan kebun Indonesia,” ungkapnya.
Meski begitu, Indonesia masih unggul dari hal cita rasa dan aroma. Indonesia juga unggul dari sisi luas area potensial perkebunan kopi yang mencapai 1,2 juta hektar. Karenanya, dengan menerapkan GAP, Indonesia bisa jadi pemain utama kopi di dunia.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ismijati Rachmi, menambahkan, kopi salah satu komoditas unggulan perkebunan yang diperdagangkan secara luas di dunia. Volume produksi kopi Indonesia sebesar 685.089 ton, sebesar 385.000 ton di antaranya diekspor.
“Kopi komoditas keempat penghasil devisa setelah kelapa sawit, karet, dan kakao. Sebanyak 76,2 % produksi kopi terbesar berasal dari jenis robusta dan arabica 23,3%,” kata dia.
Luas areal kopi Indonesia sebesar 1,24 juta Ha serta produktivitas sebesar 741 kg/Ha. Adapun devisa yang diperoleh dari ekspor komoditas tersebut sebesar US$ 1,05 miliar. Sekitar 96% produksi kopi berasal dari perkebunan rakyat dan sisanya perkebunan milik korporasi. (tety)
