17.7 C
New York
04/05/2026
Aktual

Mudik Sehat dan Nyaman Jelang Lebaran

JAKARTA (Pos Sore) — Puasa tinggal beberapa hari lagi. Masyarakat pun bersiap diri menyambut hari lebaran nan suci. Salah satu hal yang tidak bisa dilupakan menjelang Hari Idul Fitri, ya mudik ke kampung halaman.

Mudik memang sudah menjadi budaya bagi masyarakat kita. Tujuannya, agar bisa bersilaturahmi bertemu keluarga besar dan kawan lama yang sekian lama tak berjumpa. Momen penuh keindahan, memang.

Karena itu, perjalanan mudik harus dipersiapkan dengan baik agar saat di tempat tujuan kita tetap dalam keadaan sehat dan bugar. Tubuh yang bugar dan sehat tentunya harus dimiliki pengendara kendaraan roda empat maupun roda dua.

Kepala Bidang Pengabdian Masyarakat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr Kamarudin Askar menyarankan, sebaiknya pilihlah waktu malam hari untuk melakukan perjalanan mudik karena suhu udara yang lebih dingin.

“Waktu terbaik untuk melakukan perjalanan mudik adalah pada malam hari, tentunya karena suhu udara yang lebih dingin dan perjalanan yang lebih lenggang,” kata Dr Kamarudin dalam Diskusi Jelang Mudik Lebaran, di Kantor PB IDI, Jakarta, Sabtu (4/7).

Menurutnya, ketika melakukan perjalanan di siang hari kita akan lebih rentan terkena dehidrasi yang akan mengganggu konsentrasi dan fokus. Saat fokus ini terganggu, sebaiknya manfaatkan tempat istirahat atau rest area untuk bisa melakukan olah raga kecil dan melakukan gerakan relaksasi pada kaki, tangan dan leher.

“Perhatikan pula jam tidur sebelum melakukan perjalanan. Minimal tidur sebelum keberangkatan adalah enam jam agar tubuh bekerja lebih optimal ketika perjalanan,” tambahnya.

Jika pilihan mudik di siang hari, spesialis gizi, Dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK, mengingatkan untuk tetap menjaga asupan cairan harian (hidrasi) sehingga tak mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan.

“Saat mudik, ingat, kita masih puasa sehingga problem besar saat mudik adalah dehidrasi yg besar. Baik pemudik yang menggunakan jalur darat, laut maupun udara, dehidrasi cukup menghantui, sehingga konteks menjaga hidrasi penting,” ujar Ketua Yayasan Gerakan Sadar Masyarakat Sadar Gizi .

Tirta mengatakan, risiko dehidrasi yang tak jarang dibarengi kekurangan eletrolit terutama dialami pemudik yang menggunakan sepeda motor. Kondisi ini diperparah kondisi cuaca yang cukup panas.

“Pemudik yang menggunakan sepeda motor bisa berisiko mengalami dehidrasi sedang, terutama di kondisi cuaca seperti sekarang, rasanya panas sekali,” kata Ketua Yayasan Gerakan Sadar Masyarakat Sadar Gizi itu.

Karena itu, Tirta menganjurkan pemudik memperhatikan asupan cairan harian, dengan mengonsumsi cukup air putih.
Bila perlu juga bisa dengan mengonsumsi air elektrolit atau air kelapa. Untuk asupan air kelapa, disarankan sekitar satu gelas saat berbuka. Sementara untuk asupan air harian, sekitar delapan gelas saat sahur dan berbuka puasa. (tety)

Leave a Comment