08/05/2026
Aktual

Makan Tidak Teratur Dapat Timbulkan Disabilitas

JAKARTA (Pos Sore) — Disabilitas (penyandang cacat) tidak hanya pembawaan dari lahir namun juga dapat terjadi terhadap orang yang semasa muda kurang menjaga kesehatan seperti makan tidak teratur, kurang tidur, sering stress akibat tekanan pekerjaan atau hidup.

Itu dikatakan Guru Besar Universitas Indonesia yang juga penyandang disabilitas, Prof Dr Irwanto dalam dialog legislasi tentang RUU Disabilitas yang digelar koordinatoriat Wartawan Parlemen bersama Sekjen DPR RI, Selasa (30/6).

“Jadi, disabilitas itu tidak hanya karena pembawaan dari lahir. Namun, cacat itu bisa juga lahir setelah orang itu lanjut umur. Itu terjadi jika makan tidak teratur atau sering terlambat, kurang tidur, stress tinggi, akhirnya yang sehat jadi disabilitas seperti stroke, serangan jantung dan efek yagn membuat cacat lainnya,” kata Irwanto.

Menurut Irwanto yang dalam beraktifitas selalu berada di atas kursi roda itu, prajurit di Perumahan Seroja, Bekasi yang dulunya sebagai prajurit saat awal berangkat fisiknya bagus, setelah pulang mengalami disabiiltas kekurangan anggota tubuh. Hanya saja, ketika mengalami disabilitas, seperti tidak dihargai. Apalagi yang dari lahir mengalami disabilitas, diskriminasinya sangat banyak.

Yang menyedihkan, kata dia, di Istana Negara, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, masih ada jalan miring untuk penyandang disabilitas.

“Presiden sekarang, tidak ada. Sehingga ketika saya mau masuk ke Istana, diangkat seperti Pangeran Sudirman, ramai-ramai orang membantu menaikkan agar bisa masuk ke Istana. Yah, kita tidak bisa protes apa-apa, itukan tergantung tuan rumahnya saja, apakah mau menyediakan sarana untuk penyandang disabilitas.”

Pada kesempatabn serupa, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, Samsudi mengakui bahwa di Indonesia masih banyak terjadi diskriminasi bagi penyandang disabilitas.

Ketika ada seorang penyandang disabilitas, kata dia, masyarakat kurang membantu untuk menerima kehadiran penyandang ini seperti hidup apa adanya seakan tidak merasa ada kehadiran orang disabilitas, sehingga dia hidup seperti biasa saja.

“Bukan dikasihani atau dikirim ke tempat rehabilitasi untuk di rehab,” kata Samsudi.

Begitu juga sarana umum belum banyak menunjang membantu penyandang disabilitas seperti sarana ATM.

“Di atas pesawat bagi tunanetra tidak disediakan pelayanan gerak tangan untuk informasi keselamatan saat dalam penerbangan. Karena tidak bisa mendengar saat terjadi udara hampa dengan keluar alat bantu oksigen karena tidak tahu, bukannya di tutup ke mulut, sehingga mengalami kekurangan oksigen,” jelas dia.

Adanya hak–hak penyandang disabilitas, maka DPR RI sangat peduli dengan hak inisiatif mengajukan RUU Disabilitas, tambah Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ledia Hanifa Amaliyah.

“Keinginan kita agar disabilitas ini hidup seperti masyarakat lainnya, punya hak sama dengan diatur dalam RUU Disabilitas. Targetnya akan selesai 2015,” demikian Samsudi. (akhir)

Leave a Comment