JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Panitia Gelar Batik Nusantara (GBN),Ratna Djoko Suyanto mengungkapkan perlu penyadaran kepada pengrajin batik nasional untuk mematenkan hasil karya mereka agar tidak dijiplak atau diambil negara lain. Yayasan Batik Indonesia (YBI) sendiri yang sangat peduli dengan keberlangsungan batik sebagai warisan budaya bangsa akan terus berupaya membantu dengan pemberian pelatihan dan pemahaman bagaimana cara melindungi hasil karya pengrajin ini dengan pelbagai macam cara.
“Untuk hal ini banyak pengrajin belum tahu tentang pentingnya hak cipta. Mestinya mereka harus mendaftarkan ke HKI Kemenkum HAM.”
“Kita bantu para pengrajin dengan cara memberikan pelatihan seperti di Simposium GBN yang akan kita lakukan pada 25 Juni mendatang di Jakarta Convention Center (JCC),” kata Ratna, di sela Keterangan Pers tentang GBN yang akan digelar 24 Juni mendatang, di Kementerian Perindustrian, Rabu (17/6).
Menurut Ratna, pada simposiu nantinya, akan dihadirkan pakar batik dan Thailand Pornravee Poocharoen yang dinilai cukup berhasil melindungi dan menjaga batik suteranya dari jiplakan negara lain. Pada kesempatan itu juga dihadirkan Abedmenda (pimpinan Batik Gunung Jati,Cirebon) dan Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kemenkum HAM.
Ratna memaparkan, perlindungan batik nusantara penting dilakukan supaya hak-hak dari karya anak bangsa tidak diambil orang lain. “Untuk hal ini banyak pengrajin belum tahu tentang pentingnya hak cipta. Mestinya mereka harus mendaftarkan ke HKI Kemenkum HAM.”
Kendati saat ini banyak corak batik yang ramai dijual dipasaran, kata Ratna, namun pihaknya hanya mengenal 3 jenis corak batik yakni batik tulis, batik cap dan kombinasi antara batik tulis dan cap. “Jika ada yang menjual batik murah dengan harga Rp50 ribu, itu bukan jenis batik tetapi tekstil berbahan batik. Karena kalau batik apalagi batik tulis kualitasnya bagus dan membatiknya juga butuh waktu lama bahkan ada yang hingga 3 bulan,makanya harga lebih mahal.”
Agar geliat batik nusantara ini tetap bergairah, menurut Ratna, dalam pameran GBN ke-6 ini, pihaknya menghadirkan sekitar 350 pngrajin dengan hasil karya terbaru mereka dengan corak beragam. Bahkan pihaknya mengusung karya batik pesisir dari timur Indonesia seperti Papua. Termasuk pemberian penghargaan kepada 5 pengrajin batik yang dinilai berhasil mengembangkan disain dan corak batik berkualitas tinggi.
Pihaknya juga menargetkan sekitar 20 ribu pengunjung yang akan meramaikan pameran GBN dengah target omset penjualan lebih dari 26 miliar lebih tinggi dari tahun sebelumnya. (fitri)
