10.7 C
New York
04/05/2026
AktualGaya Hidup

Latih Saraf, Kurangi Resiko Neuropati

JAKARTA (Pos Sore) — Gerakan berulang–ulang dapat menyebabkan neuropati. Masyarakat yang sering menghabiskan waktu melakukan aktivitas dengan gerakan berulang (repetitif) merasakan gejala neuropati seperti kebas dan kesemutan. Karenanya, semua orang sebetulnya berisiko terkena neuropati.

“Neuropati adalah kondisi gangguan dan kerusakan saraf yang ditandai dengan gejala seperti kesemutan, kebas, dan kram,” dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Pusat Indonesia (PERDOSSI) Pusat yang juga konsultan neurologis dari Departement Neurologi FKUI/RSCM dalam Media Workshop Neuro Move bertajuk ‘Latih Sarafmu, Kurangi Resiko Neuropati’, di Jakarta, Kamis (28/5).

Ia menjelaskan, neuropati merupakan istilah untuk kerusakan syaraf. Ini dapat disebabkan oleh penyakit, trauma pada syaraf, atau dapat juga karena komplikasi dan suatu penyakit sistemik. Jika berlangsung dalam waktu lama dapat berisiko menyebabkan gangguan saraf yang lebih berat, seperti kelumpuhan,

Ada beberapa kebiasaan yang membuat seseorang berisiko terkena neuropati. Seperti mengetik di gadget, mengendarai motor dan mobil, duduk lama di posisi yang sama, gerakan yang berulang, mengetik di komputer, main games, atau memakai sepatu hak tinggi.

“Gerakan berulang-ulang pergelangan tangan ke atas dan ke bawah dapat menyebabkan tendon di pergelangan tangan mengalami peradangan dan akhirnya menekan syaraf di daerah pergelangan tangan. Jadi sangat dianjurkan melakukan peregangan selama beberapa menit tiap 1 atau 2 jam sekali supaya saraf tidak mengalami kekakuan,” ujar dr. Hakim.

Selain aktivitas dengan gerakan berulang dan gaya hidup, ada golongan yang sebetulnya paling bersiko mengalami gangguan ini. Seperti orang-orang berusia tua, penderita diabetes, ada riwayat keluarga, hipertensi, merokok, mengkonsumsi alkohol, menderita penyakit pembuluh darah, kanker, terpapar bahan kimia, terinfeksi penyakit tertentu, atau mengkonsumsi obat-obatan yang mengganggu neuropati.

“Neuropati sebetulnya dapat dicegah dengan melakukan perbaikan gaya hidup, mengupayakan gizi seimbang, olah raga teratur, istirahat cukup untuk regenerasi sel saraf, serta konsumsi vitamin neuropatik,” kata Hakim.

LKS_0806

Nah, gerakan Neuromove ini dapat membantu melemaskan otot dan saraf akibat tekanan tersebut, serta membantu untuk mengaktifkan sel-sel saraf sehingga dapat mencegah neuropati. Karenanya, lakukan gerakan Neuromove ketika melakukan aktivitas berulang dalam waktu lama untuk mencegah gejala seperti kram dan kebas timbul, sehingga kerusakan saraf tidak terjadi.

Salah satu gerakan inti neuromove adalah gerakan menyilang atau gerakan cross antara gerak tangan dan bola mata. Gerakan ini dibuat untuk mengaktifkan saraf-saraf, baik saraf tepi maupun saraf pusat, sehingga dapat meningkatkan kecepatan reaksi seseorang dan meningkatkan daya ingat.

Neuromove diciptakan khusus oleh para ahli kesehatan, yakni spesialis kedokteran olahraga dan spesialis saraf, sebagai upaya preventif neuropati sejak dini. Gerakan Neuromove terdiri dari gerakan aerobik dan stretching untuk melatih saraf, melemaskan ketegangan otot, serta mengurangi back pain akibat duduk terlalu lama.

“Selain mempraktekkan Neuromove secara teratur, pencegahan neuropati harus dilakukan bersamaan dengan konsumsi vitamin neurotropik 1 x sehari sejak dini secara teratur. Istirahat yang cukup juga penting untuk regenerasi sel saraf dan konsumsi vitamin neurotropik yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 akan membantu memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik,” tambah dr. Manfaluthy Hakim, Sp.SK. (tety)

Leave a Comment