11 C
New York
04/05/2026
Aktual

Sehat Kala Muda, Masa Tua Hidup Menyenangkan

JAKARTA (Pos Sore) — Adalah wajar bila di masa tua, kondisi dan fungsi tubuh pun semakin menurun sehingga rentan terserang penyakit. Karenanya, menjaga kesehatan di saat muda menjadi penting agar hidup di kala tua sehat dan menyenangkan.

Menjadi tua adalah takdir. Ini satu proses yang pasti dialami semua orang. Karena proses menua ini tidak dapat dihindari, berarti perubahan pada fisiologi dan anatomi jantung juga akan terjadi pada semua orang. Fungsinya pun ikut ‘menua’.

Salah satu penyakit yang kerap menimpa kalangan tua, yakni penyakit kardiovaskular. World Health Organization (WHO) mencatat setiap dua detik, satu orang di dunia meninggal karena penyakit tersebut. Sementara serangan jantung terjadi setiap lima detik dan akibat stroke setiap enam detik. Setiap tahunnya diperkirakan 17 orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular. Hal ini menjadikan penyakit kardiovaskular sebagai penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Namun, saat ini, penyakit kardiovaskular tidak hanya diderita oleh para lansia

“Sebagai organ tubuh, jantung memiliki fungsi krusial karena bekerja selama 24 jam untuk memompa darah ke seluruh tubuh agar fungsi tubuh bisa berjalan dengan baik. Ketika jantung berada dalam kondisi tertentu dan tidak bisa melakukan tugasnya, kondisi tersebut dinamakan gagal jantung,” ungkap Profesor Harmani Kalim, MPH, Cardiologist, MD, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Mitra Internasional.

Ia menegaskan hal itu, dalam SOHO #BetterU bertema ‘Investasi Dini, demi Hari Tua Lebih Baik’, yang diadakan SOHO Global Health dalam rangka momentum Hari Lanjut Usia Nasional yang diperingati setiap 29 Mei.

Faktor yang menyebabkan seseorang berisiko terhadap penyakit kardiovaskular dibagi menjadi dua kelompok. Yaitu faktor yang dapat dikendalikan antara lain kadar kolesterol yang tinggi, hipertensi, diabetes millitus, obesitas, serta gaya hidup yang tidak sehat seperti kurang berolahraga, merokok, serta konsumsi alkohol berlebihan.

Dan faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti pertambahan usia, jenis kelamin, serta riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Sebanyak 80% penyakit jantung koroner dan serebrovaskular disebabkan oleh faktor risiko yang dapat dikendalikan.

Serangan jantung dan stroke terutama disebabkan oleh aterosklerosis (penumpukan lemak) pada dinding arteri pembuluh darah yang menyuplai jantung dan otak. Deposit lemak yang bertumpuk menyebabkan terbentuknya lesi yang lama kelamaan akan membesar dan menebal sehingga mempersempit arteri dan menghambat aliran darah. Akhirnya pembuluh darah akan mengeras dan bersifat kurang lentur.

Gangguan kardiovaskular yang disebabkan aterosklerosis dikaitkan dengan berkurangnya aliran darah karena jantung dan otak tidak menerima suplai darah yang cukup. Hambatan aliran darah selanjutnya dapat berakibat pada episode kardiovaskular yang lebih serius termasuk serangan jantung dan stroke.

Adanya sumbatan darah juga dapat menyebabkan terjadinya robekan jaringan di arteri yang kemudian akan membengkak dan dapat menghambat seluruh pembuluh darah sehingga mengakibatkan serangan jantung atau stroke.

“Penyempitan pembuluh darah akan bertambah seiring bertambahna usia. Namun, serangan jantung banyak dipengaruhi oleh faktor risiko. Semakin banyak faktor risiko, semakin mudah kita terkena serangan jantung. Beberapa faktor risiko penyakit jantung koroner adalah punya penyakit hipertensi, kadar kolesterol tinggi, atau bobesitas, dan merokok,” tambahnya.

Banyak mengonsumsi makanan berkolesterol tinggi tanpa diiringi dengan olahraga menyebabkan penumpukan plaque di pembuluh darah koroner berbentuk menyerupai bisul dan bisa membesar. Adanya plaque di pembuluh darah perlu dikhawatirkan. Ketika penumpukan plaque di pembuluh darah makin membesar, asupan makan dan oksigen ke otot jantung makin berkurang dan jantung sulit melaksanakan fungsinya memompa darah secara optimal.

“Bahaya lain adalah plaque yang menyerupai bisul itu bisa pecah. Pecahnya plaque atau bisul di pembuluh koroner akan memicu reaksi pembekuan darah sehingga darah menggumpal di dalam pembuluh darah koroner menyebabkan terputusnya asupan makanan untuk otot jantung sehingga menimbulkan kerusakan atau bahkan kematian sel jantung. Inilah yang disebut sebagai serangan jantung,” tandasnya. (tety)

Leave a Comment