JAKARTA (Pos Sore) — Perempuan memiliki risiko dua kali lebih besar untuk terkena gangguan batu empedu dibanding laki-laki. Lebih beresiko jika perempuan berusia di atas 55 tahun dan memiliki riwayat batu di keluarga.
Batu empedu juga disebut penyakit gaya hidup. Penderita obesitas, kesalahan diet, kehamilan dan mengonsumsi pil pengendali kehamilan dari estrogen menjadi pemicunya.
”Kasus batu empedu baik di Indonesia maupun di hampir semua negara di dunia banyak ditemukan pada perempuan. Perbandingan kasus antara laki-laki dengan perempuan adalah 1:3,” jelas Dr Arief Setiawan, SpB (K) BD, tim medis RSU Bunda Jakarta, di sela media gathering ‘Solusi Jitu Ganguan Sistem Empedu’, yang diadakan RSU Bunda Jakarta, kemarin.
Dr Arief menjelaskan, batu empedu, salah satu gangguan empedu yang banyak ditemukan di tengah masyarakat selain peradangan akut (kolestasis) dan tumor. Umumnya batu empedu terjadi dalam proses yang cukup lama bisa bertahun-tahun.
Dari kasus batu empedu yang dilaporkan, 50 persen kasus tidak mengalami gejala dan dari kasus tersebut 25 persen baru akan menimbulkan gejala setelah 5 tahun kemudian.
Batu empedu itu sendiri bisa terjadi pada kandung empedu maupun saluran empedu (koledokolitiasis). Keduanya sama-sama berisiko terhadap timbulnya peradangan maupun penyumbatan.
Dr Erik Rohmando Purba, SpPD, spesialis penyakit dalam RSU Bunda Jakarta, mengingatkan untuk mengatasi batu empedu, pasien tidak bisa mengandalkan obat-obatan penghancur batu. Hingga saat ini dunia medis belum bisa memastikan efektifitas dari obat-obatan penghancur batu yang banyak beredar di masyarakat.
“Solusi paling tepat adalah pengangkatan batu melalui tindakan bedah,” katanya.
Penggunaan obat-obatan ini pada sebagian kasus memang memberikan hasil berupa pengikisan batu hingga 50 persen. Tetapi ketika batu yang sudah mengecil tersebut bisa keluar dengan sendirinya melalui saluran empedu, maka risiko terjadinya peradangan dan infeksi akan sangat besar.
Kandung empedu atau gallbladder adalah organ berbentuk buah pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh untuk proses pencernaan. Pada manusia, panjang kandung empedu sekitar 7-10 cm dan berwarna hijau gelap. Organ ini terhubungkan dengan hati dan usus dua belas jari melalui saluran empedu.
Empedu membantu memecah lemak dari makanan didalam usus. Kantong empedu menyalurkan empedu ke usus kecil. Hal ini memungkinkan vitamin dan nutrisi larut dalam lemak sehingga mudah diserap.
Dalam kebanyakan kasus, batu saluran empedu sebenarnya batu empedu yang berkembang di kantong empedu dan kemudian masuk ke saluran empedu. Jenis batu ini disebut batu empedu sekunder.
Kadang-kadang batu terbentuk sejak awal di saluran empedu, disebut batu saluran empedu primer. Kasus terakhri lebih jarang, namun lebih mudah menyebabkan infeksi dibandingkan saluran empedu sekunder.
Gejala masalah pada kandung empedu dapat dapat dan pergi. Bagi yang pernah mengalami masalah kandung empeddu, risiko untuk kambuh meningkat dibandingkan yang belum pernah mengalaminya. Meskipun jarang mematikan, gangguan kandung empedu tetap harus diobati.
“Penyakit lain di kandung empedu selain batu adalah infeksi. Dalam kasus berat bisa menyebabkan kebocoran atau tumor,” tandasnya. (tety)
