13.9 C
New York
04/05/2026
Aktual

Penyakit Infeksi di Indonesia Kurang Diperhatikan

JAKARTA (Pos Sore) — Direktur Umum Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Suroso, Dr dr Fatmawati, MPH, mengungkapkan, perhatian terhadap perkembangan penyakit infeksi di Indonesia kurang mendapat perhatian jika dibandingkan dengan perkembangan penyakit kronis.

Bisa jadi karena kejadian luar biasa (KLB) terkait penyakit infeksi sangat jarang terjadi. Akibatnya, perkembangan penyakit ini tidak banyak dibahas di Indonesia.

“Dampaknya adalah kurangnya perhatian dan kewaspadaan dini terhadap penyakit infeksi oleh para pelaksana kesehatan dan masyarakat,” katanya, dalam seminar bertema ‘Kesiapan Pengendalian Penyakit Infeksi di Indonesia Menghadapi Zona Bebas Asia Tenggara’,di Jakarta, Rabu (6/5).

Seminar dalam rangka HUT ke-21 ini menghadirkan narasumber yang kompeten dari dalam dan luar negeri, seperti Thailand, Singapura, dan Jepang.

Fatmawati menandaskan, penyakit infeksi ini bisa menjadi ancaman kesehatan di masa depan. Terlebih emerging dan re-emerging infectious disease menunjukkan peningkatan gejala dan kemungkinan ancaman dalam waktu mendatang sehingga harus diantisipasi.

Karenanya, dari seminar ini, diharapkan dapat mengingatkan kembali tentang pentingnya kewaspadaan dini dan kesipasiagaan terhadap penyakit infeksi. Selain itu, dapat menerapkannya mengingat penyakit infeksi berhubungan dengan beberapa faktor.

Sebut saja faktor kepadatan pendudukan, perjalanan (travel) penyakit, perubahan iklim, pergerakan ternak dan barang, dan perkembangan virus infeksi itu sendiri.

“Mobilitas manusia sangat cepat. Pagi di Jakarta, bisa jadi malam sudah di Amerika atau sebaliknya. Hal seperti ini harus kita antisipasi. Perjalanan lintas benua termasuk di dalamnya perdagangan dan pariwisata berpotensi menularkan penyakit infeksi. Bahkan, penyebaran penyakit infeksi melalui proses traveling lebih cepat dari pada masa inkubasinya,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, faktor penyebaran emerging dan re-emerging infectious disease yang sudah teridentifikasi di antaranya perubahan ekosistem, cuaca, perilaku masyarakat, dan travel atau pergerakan penyakit infeksi baru dari satu benua ke benua lain mengikuti pergerakan manusia, barang, atau ternak.

Faktor lain yang diidentifikasi yaitu mutasi virus disertai perubahan sifat dan resistensi. Misalnya, virus influenza tidak hanya mutasi tetapi juga mengalami rearrangement bentuk jenis baru. Untuk itu, emerged dan reemerged infectious disease perlu penanganan dari multidisiplin ilmu dan perlu riset.

Selain rumah sakit, penelitian dan perkembangan teknologi serta terapi pengobatan penyakit infeksi amat menentukan keberhasilan Indonesia dalam menangani penyakit infeksi. Tentu saja ditunjang dengan perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, seperti membiasakan mencuci tangan sebelum makan. (tety)

Leave a Comment