18.1 C
New York
25/04/2026
AktualEkonomi

Krisis Listrik, Pemerintah Didesak Segera Bangun PLTN

JAKARTA (Pos Sore) — Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL) dan Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) mendesak pemerintah agar segera memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia. Saat ini, krisis listrik di Indonesia sudah di depan mata.

“Salah satu solusi yang dapat memenuhi kebutuhan listrik Indonesia yang semakin meningkat adalah dengan memanfaatkan PLTN,” kata Ketua MPEL Budi Sudarsono, pada acara Temu Media, Senin (27/4/).

Pihaknya, kata dia, tak akan membiarkan pemerintah tidak memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan listrik, sementara ada solusi tepat untuk mengatasinya. Ketakutan masyarakat terkait besarnya dampak kecelakaan Chernobyl dan Fukushima, dinilainya terlalu berlebihan.

Ketua HIMNI, Arnold Soetrisnanto, juga berpendapat sama. Menurutnya, untuk dapat memenuhi kebutuhan listrik Indonesia yang semakin meningkat, yaitu dengan memanfaatkan pusat listrik tenaga nuklir (PLTN). Meski memang, solusi ini untuk jangka panjang karena pembangunan PLTN memerlukan waktu sedikitnya 8-10 tahun.

Menurutnya, kendala besar yang dihadapi terkait pembangunan PLTN yakni masih adanya perbedaan persepsi di kalangan masyarakat. Utamanya, di kalangan elite, termasuk di kalangan penentu kebijakan energi. Masih ada kekhawatiran bangsa Indonesia belum mampu mengoperasikan teknologi canggih tersebut.

Kekhawatiran itu muncul setelah terjadinya kecelakaan PLTN di Chernobyl dan PLTN Fukushima. Kekhawatiran ini berdampak terkatung-katungnya program PLTN. Meskipun berulangkali Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyatakan PLTN aman dioperasikan mengingat teknologinya sudah dikuasai. Namun, toh hasil kajian keamanan PLTN yang dipublikasikan pun tetap jalan di tempat. Tidak ada tindak lanjutnya.

“Semakin cepat PLTN dibangun, akan semakin baik dampaknya bagi pembangunan teknologi, ekonomi, dan politik nasional,” jelas Arnold.

Wakil Ketua Umum HIMNI, Markus Wauran, pun terheran-heran. Negara maju saja berlomba-lomba bikin PLTN, sementara di Tanah Air masih dalam perdebatan. Hal tersebut jelas sangat disayangkannya. Amerika Serikat, misalnya, punya 100 PLTN, yang kini tengah membangun lima unit PLTN lagi.

“Kemudian Rusia, yang saat ini memiliki 33 PLTN, dan sedang membangun 11 PLTN baru. Tiongkok juga memiliki 27 unit PLTN yang beroperasi, dan sedang membangun 23 unit lagi,” jelasnya.

Padahal negara-negara tersebut juga memiliki banyak kandungan minyak bumi dan gas. Diversifikasi energi dilakukan para negara maju itu bertujuan agar tidak tergantung pada satu sumber energi.

Kepala Batan DR. Djarot Sulistio Wisnubroto, berulangkali menekankan, PLTN adalah satu-satunya teknologi pembangkit listrik yang sudah memproses limbahnya dan memperhitungkan dalam keekonomiannya (harga listriknya).

Di sampaing itu, energi nuklir juga sebagai bagian dari bauran energi nasional untuk menjamin keamanan pasokan energi, menuju keberlanjutan sistem energi nasional hingga ribuan tahun yang akan datang. (tety)

Leave a Comment